Selasa, 20 Desember 2011

Mengintip Tiap Sudut Surabaya


"Surabaya sering diasumsikan sebagai kota perdagangan dan pelabuhan yang hanya bagus untuk transit saja. Namun kota ini memiliki sejarah dan perpaduan budaya yang kompleks dan menawan hati"


Itulah paparan yang muncul ketika kami melangkah masuk ke Galeri CCCL Jl. Darmokali No. 10, yang bertempat di Kota Pahlawan, yoits di Surabaya fren.  Tercatat total 7 orang Fotografer dan seorang Videografer yang diwadahi oleh Matanesia Community berkolaborasi dengan Marie Jo Stevens (Etnofotografer Prancis) dan Agus Suparta (Freelance Fotografer) untuk menggelar pameran ini.




Jumat, 16 Desember 2011

Ayo Lahap Buku-Buku Fotografi Dunia di Goethe Institute

Seringkah kamu merasa gusar karena buku kumpulan karya fotografi itu selalu mahal harganya. Pun di toko-toko buku jarang sekali ada buku foto yang yang dibuka segelnya. Kalau pun ada kita hanya bisa membaca nya sebentar aja. Lebih dari 10 menit biasanya sih rasa malu datang menghampiri. Apalagi kalau ada petugas yang terlihat sedang mantau.
P1030632_800x533
Nah, Goethe Institute memberi jawaban keresahan kita akan akses ke buku-buku kumpulan karya fotografi itu. Melalui acara tahunannya yang sudah digelar sejak 2006, Deutscher Fotobuchpreis (Penghargaan Buku Foto Terbaik Jerman), yang digelar dari 10- 23 Desember 2011, kita dipersilahkan untuk membaca lebih dari 100 judul buku fotografi terbaik terbitan Jerman sepuasnya.

Kamis, 08 Desember 2011

[Patut diberi Salut] Sandi Jaya Saputra: Nyentrik tapi Fantastic.

Bagi kalian warga Bandung yang doyan berkesenian dan aktif bergaul pasti nama Sandi Jaya Saputra sudah nggak asing, apalagi 19 November lalu namanya mejeng di bawah tajuk sebuah pameran tunggal Pause - Urban Decay yang digelar di Common Room. Kalau masih belum ngeh juga, mungkin nama panggilannya akan lebih familiar di kuping. Ya dia lah Usenk yang pake K bukan pake G. dan yeah-nya lagi, di umurnya yang masih 26 tahun dia udah pameran, tunggal pula. Oke Senk, cukup tau aja, kalau ternyata elu bukan sekedar nyentrik bin ekstentik tapi juga fantastic. Salut

Konsistensinya untuk terus berfotografi patut kita beri tepuk tangan, fren. Pertama, doi getol banget untuk mengerjakan proyek-proyek personalnya dan hasilnya selalu memukau. Ketika ditanya soal kesehariannya ia menobatkan diri sebagai fotografer lepas, assignment yang diterimanya pun nggak tanggung-tanggung. sejumlah program LSM ia dokumentasikan. Menariknya lagi, bukan cuma ihwal teknis aja yang matang dipelajari, tetapi juga teori dan sejarah fotografi. Nggak salah kalau ia diberi kesempatan untuk mengajar fotografi di kampus (yang gedungnya mirip kelurahan) Fikom, Unpad.

Oke, merasa masih kurang bukti untuk menyatakan salut kepada Usenk? Mari kita simak hasil obrol-obrol MALU dengannya.

"Pasar Baru"
Pause - Urban Decay

Rabu, 07 Desember 2011

iPhoneography: Era Baru Fotografi Digital

“We shape our tools and thereafter our tools shape us,” begitulah tulis Marshall McLuhan dalam buku Understanding The Media yang pertama kali terbit pada 1964. Manusia menciptakan suatu benda, lalu benda itu berbalik membentuk budaya kita. iPhone pertama kali rilis pada 29 Juni 2007. Hingga tulisan ini dibuat, iPhone sudah sampai pada generasi keempat. Berbagai perangkat intelejen (iDevice) serupa pun dikembangkan: iPod dan iPad. Sejak kemunculannya itu pelan-pelan iDevice menciptakan fenomena baru dalam fotografi. Istilah fotografi pun menjadi cair. Pada iDevice, fitur kamera mini canggih serta berbagai software editing foto memunculkan tren iPhoneography, sebuah era baru fotografi digital pun dimulai.

Kamera mulai ditanamkan di iPhone sejak iPhone 3G dengan resolusi 2 megapixel. Lalu di iPhone 3GS fitur kameranya mulai meningkat menjadi 3,2 megapixel. Kemampuan merekam video pun sudah ditambahkan. Jika disandingkan dengan kamera digital konvesional, hasil foto iPhone 3GS nyaris sama. Baru di iPhone 4G kameranya sudah 5 megapixel. Sejalan dengan iPhone, teknologi kamera pada iPod dan iPad pun dikembangkan. Hasil foto yang lebih tajam pun bisa didapatkan. Sensasi baru dalam berfotografi pun muncul, kita hanya perlu mencolek layar untuk mengambil foto. 

Minggu, 04 Desember 2011

Santana, Katy Perry, David 'Naif', The Brandals Kumpul di Cikini


Ya, kalian nggak salah baca judulnya kok. Dan kami nggak bermaksud untuk menipu kalian. Karena hal ini benar adanya. Dave Grohl, vokalisnya Foo Fighter, Santana, James Hetfield (Metalica) Katy Perry, David 'Naif', The Brandals, Paramore, lagi hadir di Cikini pada gelaran Rockin Frame, pameran foto panggung yang digagas oleh StageID, komunitas pecinta fotografi pannggung. 


Selasa, 22 November 2011

BILL CUNNINGHAM New York: Kisah Loyalitas Seorang Fotografer Fesyen ‘Jalanan’

Menyimak kisah seseorang mengerjakan hal-hal yang sesuai passion dan mimpinya memang selalu mengharukan, apalagi kalau hal itu dilakukan dengan loyalitas tinggi dan keceriaan. Begitulah kira-kira Bill Cunningham dengan fotografi fesyen yang sudah ia geluti selama berpuluh-puluh tahun.

Film ini dibuka dengan adegan Bill Cunningham menggowes sepedanya menyusuri trotoar jalan. Tubuh kurusnya sedikit terlihat tebal karena jaket biru yang selalu ia kenakan. Seketika  ia pun berhenti lalu merapatkan sepeda ke tiang lampu jalan dan menguncinya. Sejurus kemudian ia sudah siap dengan Nikon FM-nya, lautan manusia yang sedang menyebrang jalan pun ia selami. Matanya selalu awas menelusuri busana tiap pejalan kaki, dari kepala hingga kaki. Tiap kali ada yang menarik perhatiannya ia langsung menghampiri, lalu dengan lincahnya memotret. Ekspresi ceria tak pernah lepas dari wajah tirus penuh keriputnya persis seperti seorang anak kecil yang kegirangan.     
   
“The best fashion show is on the street, always has been and always will be,” itulah kalimat pertama yang akan kita dengar dari mulut Bill dalam film ini.

Jumat, 11 November 2011

[Patut diberi Salut] Evelyn Pritt: Seimbang Antara Komersil dan Personal Project


Biasanya, kebanyakan fotografer yang sudah berada di ranah komersil merasa nyaman dengan keberadaannya. Project yang mereka kerjakan hanyalah project pesanan semua. Tapi, ketika kami melakukan observasi kecil-kecilan tentang  Evelyn Pritt seketika stigma itu runtuh. Pasalnya, selain masih aktif melakukan pemotretan yang komersil, wanita fotografer yang akrab disapa Epel ini masih getol membuat proyek personal.

Pameran-pameran skala nasional pun beberapa kali memajang karya-karyanya. Di antaranya yang kami sempat kunjungi adalah pameran “Mata Perempuan, Seharusnya..” yang dikurasi oleh fotografer senior Erik Prasetya dan yang paling gress adalah pameran “Beyond Photography” sebuah pameran yang mencoba mendefinisikan ulang makna serta wujud fotografi di Indonesia sekarang, nama Jim Sipangkat dan Asmudjo yang menjadi kuratornya.

Ketertarikannya dengan fotografi komersial dimulai ketika ia bekerja di sebuah agenci iklan, saat itu ia menjabat sebagai seorang web desainer. Mengenai fotografi komersilnya, lulusan Desain Komunikasi Visual ini sering mengerjakan pemotretan untuk produk dan model (fashion).  Dalam sesi wawancara via email ini Epel berbagi cerita dari mulai proses kreatif dalam pemotretan hingga keterlibatan wanita di dunia fotografi.


Minggu, 23 Oktober 2011

[Patut Diberi Salut] Anissa Utami Seminar : Panjatkan Syukur Melalui Foto


Bagi Anissa Utami Seminar, fotografi adalah hal yang menyenangkan, tidak rumit, dan menjadi medium alternatif penerjemah pesan. Kegemarannya jalan-jalan sejak kecil membawa gadis yang akrab dipanggil Ayie ini selalu ingin mendokumentasikan keelokan sejauh mata memandang.

Lahir di Kanada dan mengenal fotografi berawal dari sekedar iseng belaka. Bagi Ayie, melukis cahaya melalui viewfinder juga dapat diartikan sebagai bentuk rasa syukur kepada yang Maha Pencipta atas anugerah keindahan alam dan segala isinya.

Di sela-sela kesibukannya menggeluti semester akhir di Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran. MALU berkesempatan mengisi senggang waktu berbincang-bincang dengannya tentang filosofinya memotret dan kegemarannya akan travel photography



Selasa, 18 Oktober 2011

[Patut Diberi Salut] Hafidz Novalsyah: Membingkai Dunia Dengan Rasa dan Keyakinan


Awalnya, saya ingin mencantumkan tempat ia bekerja di bagian judul untuk menunjukkan betapa dia hebat. Namun, setelah saya membaca jawaban-jawaban serta foto-fotonya, ternyata saya salah, dia memang patut diberi salut apa adanya. Tanpa harus  perlu disebut profesinya sebagai fotografer majalah National Geographic Indonesia sekali pun.

Dia adalah Hafidz Novalsyah, pemuda yang seumuran sama saya. Sayang, kalian tidak begitu tahu berapa umur saya, jadi saya perlu memberi tahu kalau saya dan Hafiz sama-sama berumur 23. Kita juga sama-sama kuliah Komunikasi, sama-sama pecinta fotografi, bedanya Hafiz lebih menggiati dan menjadikannya sebagai profesi, pun tempat kerjanya dianggap mumpuni bagi para pegiat fotografi lainnya. Tapi ada yang satu hal pasti yang membedakan saya dan Hafiz, saya sudah lulus kuliah. Haha. *becanda Fidz.

Menyaksikan foto-foto dokumenter Hafiz itu sangat menarik. Eksplorasi angel dan momennya membuat foto menjadi bernyawa karena bercerita. Kedalaman observasi pun selalu dilakukan  Hafidz ketika akan melakukan pemotretan ke suatu tempat atau acara. Selain itu, rasa dan keyakinan menjadi dua jurus utamanya dalam mengamalkan fotografi dokumenter.

Dari pada ngalor ngidul mending langsung aja kita simak siaran langsung dan bisa diulang-ulang semaumu, hasil wawancara saya dengan bung Hafidz ini. Banyak cerita inspiratif dan ungkapan-ungkapan diplomatis yang patut kita catat dan renungi.

Mari…

Gang Ampiun

Senin, 17 Oktober 2011

Workshop dan Pameran Fotografi "PANCASILA HARGA MATI" (GRATIS namun TERBATAS))





Sebuah workshop yang menarik sekaligus menantang nih kawan. Galerin Fotografi Jurnalistik Antara menggelar sebuah workshop fotografi gratis untuk kita para anak muda. GFJA bekerja sama dengan Grafisosial mengajak kita untuk memberikan opini kita mengenai Pancasila dalam bentuk karyafotografi..

Workshop yang akan digelar pada November 2011 ini dibatesin hanya untuk 15 orang dengan batas usia 15-25 tahun. Jadi untuk bisa ikut workshop ini, kita harus melewati proses seleksi dulu. Nantinya, kita bakal dikasih materi tentang fotografi serta pemahaman tentang Pancasila. Setelah itu, kita ditantang untuk bikin karya fotografi yang berkaitan dengan pancasila.

. Tertarik untuk coba? silahkan kirim hal-hal sebagai berikut:
1. CV, No. Kontak, dan portofolio berupa foto-foto bertema sosial.

2. Materi portofolio dalam bentuk pdf/jpf. maksimal 2 Mb dikirim ke alama email sekertariat@grafisosial.org cc: kurnia@grafisosial.org. Subject: Workshop Fotografi
3. Cerita singkat/opini mengenai pancasila (minimal 2 paragraf).


Deadline penerimaan lamaran: 31 Oktober 2011.
Pengumuman hasil seleksi peserta workshop:  3 November 2011.




Informasi lebih lanjut: Kurnia Setiawan (0816 1844751)
www.grafisosial.org



info ini disadur dari: sini

Rabu, 12 Oktober 2011

GajiPertama Award akan diberikan kepadaaa.... (lanjutan)


Pengumunan Pemenang Kategori Menulis Apresiasi Foto

Pengantar Juri

Sebuah foto bernilai seribu kata. Saya yakin kita semua pernah atau bahkan sering mendengarnya. Terlepas dari persoalan kita setuju atau tidak dengan ungkapan itu, ia menyiratkan bahwa foto, seperti halnya kata-kata, adalah ‘teks’ yang bisa dibaca. Namun sayangnya, walaupun fotografi sendiri sudah sangat merasuk ke dalam kehidupan sehari-hari kebanyakan orang, di Indonesia tulisan-tulisan tentang pembacaan fotografi masihlah jarang ditemukan. Kalaupun ada, seringkali tulisan-tulisan tersebut hanya dibuat oleh kalangan akademis (kritikus/kurator/dll.) dengan menggunakan bahasa yang sedemikian rumit, yang alih-alih mencerahkan, malah membingungkan. Saya tidak akan menyalahkan mereka karena saya yakin tulisan mereka memiliki fungsinya sendiri. Namun yang saya khawatirkan adalah ketika tulisan mengenai fotografi hanya didominasi tulisan ‘berat’ seperti itu, peminat fotografi di Indonesia akan semakin menjauhi tulisan-tulisan fotografi karena berpikir mereka begitu sulit untuk dipahami. Akhirnya ketika berbicara fotografi kita lalu hanya berkutat pada masalah pembuatan foto saja.

Dengan latar belakang demikian, kompetisi apresiasi foto yang diadakan Memang Terlalu buat saya adalah langkah konkrit yang sangat bermanfaat dan memang diperlukan. Saya masih percaya bahwa pesan kritis tetap bisa disampaikan dengan bahasa populer yang bisa dimengerti tiap orang. Dalam menulis apresiasi foto tidak ada benar/salah dalam posisi yang diambil (suka/tidak suka), maupun aspek fotografi yang dibahas (teknis/non-teknis) Tulisan yang saya pilih sebagai pemenang kompetisi pun bukanlah karena ia respon yang ‘benar’ terhadap foto yang diapresiasi, melainkan karena menurut saya si penulis bisa mengkomunikasikan dengan baik apa yang ia rasa dan dapatkan dari karya foto yang dia apresiasi, karena menuangkan pikiran ke dalam bentuk tulisan bukanlah sesuatu yang mudah.

Pembacaan sebuah foto oleh seorang pelihatnya bisa saja tidak sama dengan ide yang ada di benak si fotografer ketika menghasilkan karyanya. Yang muncul di kepala dua orang yang melihat foto yang sama pun bisa berbeda. Sah-sah saja. Yang menarik lalu adalah ketika ide-ide yang berbeda dari karya yang sama itu bisa kita sandingkan. Perbedaan memperkaya tafsir, dan memahami sesuatu dari berbagai sudut pandang tentunya akan membantu fotografer sendiri dalam berkarya. Dengan adanya kompetisi seperti ini mudah-mudahan teman-teman semakin terdorong dan bisa memberanikan diri untuk menuangkan ide pikirannya tentang fotografi.


—Kurniadi Widodo

Pemenangnya adalah 

Suryo Gumilar
Berhak atas Buku Novel Grafis SANG FOTOGRAFER dan LEATHER STRAP 

Apresiasi Foto "Untitled" (Arif Furqan) oleh Suryo Gumilar
Apresiasi Foto "Untitled" (Arif Furqan) oleh Suryo Gumilar

Foto ini diambil oleh sdr. Arif Furqan dan diunggah di fotografer.net dengan judul #FNstreet. Di sanalah untuk pertama kali saya melihat foto yang saya anggap mencengangkan ini. Foto ini tetap mencengangkan bahkan setelah saya melihatnya berulang kali.
Mari kita bedah foto ini bersama-sama. Foto, seperti layaknya medium penduplikasi realita, punya dua makna, yakni tersurat dan tersirat. Makna tersurat adalah elemen atau objek apa saja yang kelihatan pada gambar.
Pada foto di atas, kita bisa melihat teralis besi yang biasanya terdapat di pertokoan. Lalu di belakangnya, sebuah gambar atau potret. Foto dalam foto itu sendiri, sudah menarik buat saya. Dalam foto di balik teralis, tampak gambar perempuan berkerudung. Di belakang sang perempuan terlihat sebuah bangunan seperti menara.
Dari segi estetika, elemen dan komposisinya begitu sederhana. Penempatan satu elemen yang menjadi 'tokoh utama cerita' yaitu si perempuan berkerudung mengikuti kaidah 'Rule of thirds'. Ini turut mendukung makna kedua, yaitu makna tersirat yang mau tak mau menyeruak dari foto ini.
Lalu apa makna yang tersirat dari foto ini. Makna yang bersifat kultural atau historis buat saya, adalah tentang isu agama dan kaitannya dengan perempuan sebagai subjek (atau objek lebih tepatnya?)
Saat membahas makna tersurat, saya telah menyebutkan elemen-elemen dalam foto, dengan urutan dari depan ke belakang. Dalam makna tersirat, saya coba membahas elemen-elemennya dari belakang ke depan.
Setidaknya ada dua makna tersirat yang bisa saya lihat dalam foto ini. Yang pertama, dari menara pada latar belakang foto perempuan, mirip dengan menara Masjidil Haram di Mekkah. Kota pusat agama Islam. Kerudung,mensimbolkan perintah agama. Disini perintah tentu saja tidak terbatas pada perintah berkerudung tapi semua perintah atau aturan yang ditujukan untuk perempuan sebagai tokoh didalam foto.
Dan “punctum” atau elemen  yang menusuk pikiran saya dalam makna tersirat foto ini justru berada di bagian depan, yakni teralis besi. Benda ini menyimbolkan kungkungan, sebuah kerangkeng bagi sang perempuan.
Agama, sejatinya adalah petunjuk untuk membimbing umatnya dalam koridor kebaikan, kebaikan yang terkodefikasi menurut standard agama yang bersangkutan. Agama juga menuntut umatnya untuk taat, kadang tanpa tanya. Celakanya, ketaatan tanpa tanya ini sering dimanfaatkan untuk tujuan politis. Kaitannya dengan perempuan dalam masyarakat patriarkal, kaum prialah yang memegang kendali. Kerangkeng ini menyimbolkan masyarakat ‘kebapakan’ tersebut dan interpretasi agama oleh 'penguasa' untuk 'mengendalikan' perempuan.
Adalah benar bahwa perintah agama mengalami banyak interpretasi. Contohnya soal kerudung atau jilbab. Dari Kordoba, Afrika Utara, Jazirah Mesopotamia, Hindustan, hingga Asia, aplikasi kerudung punya banyak varian. Dari shayla yang relatif longgar (seperti yang dipakai perempuan dalam gambar) hingga Niqab atau Burka yang tertutup. Namun interpretasi-interpretasi ini ditentukan oleh ulama-ulama yang mayoritas pria. Padahal ia  untuk kepentingan perempuan.
Disinilah 'otorisasi' teralis besi ditedengkan, tepat di muka sang perempuan. Kadang begitu keras bak besi sehingga pada negara atau tempat yang relatif ketat, perlu polisi susila yang mengatur perempuan bersikap.
Elemen-elemen foto yang kita bahas juga punya makna tersirat yang lain. Jika sebelumnya saya mengupasnya dari sisi interpretasi oleh pemimpin patriarkal, kali ini saya mencoba mengupas dari sisi perempuan sendiri.
Makna tersirat kedua yaitu simbolisasinya sebagai persepsi perempuan atas dirinya terhadap agama/perintah agama sebagai identitas, serta persepsi ‘pihak luar’. 
Di dunia muslim kontemporer, salah satu isu yang mencuat adalah isu penempatan dirinya (positioning) dalam komunitas modern. Kaum muslimin saat ini dihadapkan dengan persoalan pencarian identitas. Siapakah dirinya dan bagaimana ia menempatkan diri di dunia modern ini? Bagaimana ia memandang tradisi Islamnya dalam dunia modern dan global? Isu ini makin menguat setelah peristiwa 11 September, sehingga foto ini juga turut menguat konteksnya untuk saat ini.
Tarik-menarik yang menjadi pergulatan dalam dunia kontemporer, sebagai pembuka atas interpretasi kedua dalam pembahasan ini. Memang benar isu pergulatan identitas ini diderita baik oleh laki-laki dan perempuan. Namun penderitaan lebih dirasai oleh perempuan, sebab atribut Islam begitu tampak di mata orang lain (disebabkan kewajibannya untuk berkerudung). Sementara busana tidak terlalu mengganggu untuk kaum laki.
Kaum laki bisa secara klandestin berbaur dengan masyarakat majemuk tanpa ada penempelan atribut berarti, kecuali mereka memang mengutarakannya. Sementara perempuan yang ‘taat’, mengalami hal ini. Di sini, perempuan muslim dihadapkan pada tarik-menarik antara tradisi berhijab, dan posisinya di masyarakat, serta bagaimana ia menyikapi dirinya.
Gambar perempuan berkerudung mensimbolkan identitas, tradisi. Kita sebagai penikmat foto berperan sebagai mata dunia, si ‘pihak luar’ yang memandang perempuan muslim di balik teralis besi perbedaan persepsi dan tradisi.
Pada interpretasi makna tersirat kedua ini, teralis besi menyimbolkan ‘tumbukan budaya’, perbedaan cara pandang dan tradisi. Si perempuan adalah tesis, pembaca adalah antitesis dan teralis besi sebagai sintesis.
Mata perempuan yang melihat langsung ke kita yang menontonnya juga seolah balik bertanya, “bagaimana kamu wahai penonton, melihat diriku dan identitasku di balik ini?”
Jadi, pada interpretasi makna tersirat pertama, teralis besi menyimbolkan otorisasi terhadap diri sang subjek/tokoh. Sedangkan pada interpretasi kedua, teralis disimbolkan sebagai sebuah sintesa atau dialektika, tarik-menarik (kalau saya boleh menyebutnya begitu) antara tokoh, tradisi, dan ‘penonton’. Sementara untuk elemen-elemen lain punya makna tetap. Tampaknya, baru dua interpretasi saja yang saya temukan atas foto sdr Arif Furqon tersebut.

Juara Favorit:

Dicky Jiang 
Berhak atas Kaos MemangTerlalu

Apresiasi Foto "Untitled' (Kurniadi Widodo) oleh Dicky Juwono
Saya menemukan banyak hal menarik dari foto ini, walaupun secara sekilas foto ini tampak sederhana. Secara konten foto ini memiliki makna yg lebih daripada apa yg kita bisa lihat. Dengan mempergunakan 4 element objek (Kapal Laut, Manusia, Dermaga, dan horison). Dua orang manusia sedang memandang jauh ke arah laut, dimana jauh di-horison berjajar tiga buah kapal laut besar, Kita mendapatkan sebuah sensasi keheningan, serasa semua objek dalam foto ini berhenti untuk satu saat tertentu. Membuat kita berpikir apa yang sedang dipikirkan oleh dua manusia ini ? apakah mereka mempunyai "hubungan" tertentu dengan Kapal-kapal laut disana? Keberadaan dermaga di antara kedua objek manusia juga memberi nilai tambah terhadapap karya ini, selain memberi tambahan tekstur bagi keseluruhan gambar, keberadaan dermaga yang secara umum bisa membantu agar kita dapat lebih dekat kepada objek kapal tidak dipergunakan oleh kedua manusia itu. mengapa? apakah ada ke"enganan" dari diri mereka untuk lebih dekat? Dengan di-presentasikan secara Hitam & putih juga sangat memebantu dalam menambah "mood" dari karya ini. Hal lain yang menarik dan akan pertama-tama mendapat komentar dari orang yang melihat karya ini adalah: komposisi. Hal pertama yang akan muncul dalam pikiran kita adalah tampak karya ini "nanggung" , kurang simetris. Tetapi mengapa kita tetap menghabiskan beberapa detik dari waktu kita untuk mengikuti alur geometri yang terdapat pada karya ini. Karena tanpa disadari karya ini memiliki geometri yang hampir sempurna. Itulah alasan mengapa walaupun secara kasat mata komposisi pada karya ini tampak "nanggung" atau tidak simetris, kita tetap dapat merasakan suatu geometri yang dinamis. kenapa ? Jawabannya Golden ratio. Sulit menerangkan dengan kata-kata, karena itu saya meng-attach karya ini setelah saya tambahkan diagram golden ratio di atasnya (gambar B), dan yang lebih menarik lagi, karya ini tetap "masuk" walaupun diagram golden ratio nya dibalik (Gambar C) Golden ratio dalam sebuah karya foto ataupun karya visual lainnya bukanlah suatu hal yang "utama", tapi dengan adanya Golden ratio dalam sebuah karya, akan memberikan suatu nilai tambah yang terkadang tidak disadari oleh pelihat karya tersebut. terima kasih



karya-karya the best lainnya:

Apresiasi Foto "Adaw!!!" (Yusfan Wahyudi) oleh Yohanes Chandra
Apresiasi Foto "Adaw!!!" (Yusfan Wahyudi) oleh Yohanes Chandra Kepala adalah bagian tubuh yang paling terhormat dari seseorang; bagian teratas dari seseorang. Kecuali tukang cukur, untuk menyentuh kepala akan memerlukan ijin khusus dari sang empunya kepala. Kesalahan dalam memperlakukan kepala orang lain sering akan memicu keributan, karena harga diri seorang, ada di kepalanya. Sebaliknya, kaki adalah bagian paling rendah; bagian paling bawah. Bagian tubuh yang sering dianggap rendah dan kotor. Meskipun demikian kaki adalah bagian yang paling kuat, dan menopang seluruh tubuh. Sebuah tim merupakan kumpulan pribadi, masing-masing dengan karakter yang berbeda. Masing-masing memiliki sisi kuat dan sisi lemah. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Agar sebuah tim dapat bergerak sesuai dengan tujuannya, setiap anggotanya harus mengerti kemampuannya, dan mengerti peranannya di dalam tim tersebut. Sebagaimana kaki tidak dapat memimpin, demikian juga kepala tidaklah sanggup menopang seluruh tubuh. Dalam sebuah tim, bukan lagi ego pribadi yang menang, tetapi keberhasilan bersamalah yang paling penting. Ada pengorbanan-pengorbanan yang harus ditempuh untuk meraih cita-cita bersama. Orang yang berada paling bawah, justru adalah orang-orang yang paling kuat dalam tim tersebut. Jika orang yang lemah ada dibawah, hanya kehancuran yang akan menanti. Sebaliknya, yang kuat haruslah menopang yang lemah. Semakin tinggi tujuan yang ingin diraih tim, makin berat beban beban yang harus dia topang. Yang ringan dan cekatanlah yang akan menentukan laju perjalanan. Jika yang ada di bawah harus memikul beban berat badan rekan yang di atasnya, maka orang yang ada di atas harus memikul beban tanggung jawab atas pengorbanan rekan-rekan yang sedang menopangnya. Semakin tinggi ia berada, semakin banyak pula rekan yang sedang menopangnya saat itu, dan semakin besar pula tanggung jawab yang harus ia pikul. Di saat seseorang merayap naik, tidak jarang kakinya harus berpijak pada kepala rekan yang menopangnya. Apakah rekan yang menopang harus marah? Harus merasa harga dirinya terkoyak karena kepala yang diinjak-injak? Dan perlukah yang menginjak merasa puas karena dapat menginjak-injak kepala rekannya? Tidak perlu kita tanyakan seberapa kotor kaki itu, atau kapan terakhir kali orang yang dibawah mencuci rambutnya. Itu bukan lagi hal utama, itu bukan suatu tujuan. Keberhasilan dan tujuan bersama, harus mengalahkan ego masing-masing pribadi. Harga diri perseorangan digantikan dengan harga diri sebuah tim. Tujuan yang satu sebagai sebuah tim. Kemenangan bersama. Bukan siapa yang diatas dan siapa yang dibawah. Bukan siapa yang terinjak dan terluka, dan bukan pula siapa yang berada di puncak. Tetapi satu untuk semua, dan semua untuk satu.


Apresiasi Foto Dearly Departed (Debbie Tea) Oleh Agung Aribhowo
Apakah yang terbayang jika kita mulai melepaskan pijakan ini dan terbang. Dan mengapa memilih terbang? karena di atas sana adalah sebuah area yang luas. Saya teringat dengan seseorang illusionist di era 90an,yaitu David Copperfield Dengan salah satu trik sulapnya yang memukau yaitu melayang di udara atau terbang, Ia berhasil mewujudkan impian masa kecilnya untuk terbang, ia mampu menembus batas logika saat ia mulai melayang, walau dengan sebuah trik, sebuah trik yang jenius. Rasa untuk terbang melayang atau sensasi terbang memang sungguh luar biasa,cobalah sesaat mendongakan kepala dan melihat langit yang bersih, hiruplah udara sebanyak banyaknya dan khayalkanlah diri untuk terbang, merasakan hembusan angin, menyentuh awan, atau bersama kawanan burung yang bermigrasi, waw luar biasa! Terkadang saat pagi ketika mulai beraktifitas berangkat ke tempat kerja,saya sesekali melakukan hal tersebut di dalam angkutan, ya cukup membawa kelegaan dan refreshment,walau cuma khayalan semata. Mungkin suatu saat nanti kita bisa melayang,berpindah tempat dengan terbang,atau menggunakan baling-baling bamboo sebagai alat transportasi,ya satu saat nanti. Sensasi lain yang mungkin bisa di coba adalah dengan menaiki sepeda lalu membentangkan tangan sambil mendongak ke atas,ya saya terkadang mendapatkannya sebelum akhirnya saya harus mengendalikan sepeda kembali *berbahaya hehehe… Kala kita tebang kita bisa melihat pemandangan dari sudut lain,sebuah point of view yang baru,seperti burung elang yang bisa melihat mangsa dari kejauhan,atau seperti satelit yang mengitari bumi dan melihat segalanya dan akhirnya pandangan kita tebuka akan hal baru. Akhir-akhir ini saya sering mendengar kalimat “Zamrud Khatulistiwa” ya kalimat yang merepresentasikan Indonesia,menurut saya, yang terbayang di benak saya adalah : kita bisa melihat hamparan pulau hijau menyerupai zamrud,yang membentang di antara garis khatulistiwa dan sekali lagi itulah yang bisa kita lihat dari pandangan di atas,menakjubkan. Sebuah sudut pandang dari atas,sebuah nama yang indah yang kita bisa berikan ketika kita melihatnya dari sudut atas,juga tengoklah “Great Barrier Rief “ di Australia,atau susunan Tembok Cina.Entah mungkin puluhan kalimat bisa terucap jika kita bisa melihat dari sudut berbeda,dari sudut ketika kita terbang. Entah dengan sayap atau dengan mendorong angin, terbang memang membebaskan,terbang adalah sesuatu yang hampir tak terbatas namun terbang juga mengandung sebuah tanggung jawab,seperti halnya Superman,Gatotkaca,dan para superhero hasil imajinasi para komikus. Mereka diberi anugrah untuk bisa terbang,dan mereka memanfaatkan hal tersebut untuk menolong sesama. Dan gravitasi adalah salah satu hal yang mengingatkan kita untuk selalu menapak.


Apresiasi Foto "Untitled" (Bey Shouqi) oleh Ian Adiartha
Tangga-Tangga Menuju Kesuksessan Jalan tengah bukanlah berarti menang, kemarin engkau sekarang diriku. Melainkan turun kah setengah atau naik kah setengahnya pengharapan kita. Seumpama tangga adalah daya ungkit yang luar biasa agar kita mampu mencapai yang lebih baik dan lebih baik lagi. Orang yang lemah tangga-tangga kesuksesan merupakan tangga yang terjal dan berliku karena hidupnya hanya dipenuhi dengan keluh kesah dan beranggapan bahwa dunia ini tidak adil, kenapa hal itu terjadi pada dirinya sehingga dia menyebarkan kebencian agar orang lain menderita sebagaimana penderitaan yang dirasakannya. Naik dan turun inilah yang memungkinkan terbentangnya anak tangga yang berundak menuju tata cara kehidupan yang lebih tinggi. Tidak banyak orang yang berhasil mencapai tangga kesuksesan tanpa melewati pengorbanan dan kesulitan. Sebagian besar mereka yang berhasil mencapai tangga kesuksesan dalam kehidupan pernah mengalami berbagai tantangan, kesulitan dan pengorbanan. Namun mereka yang mencapai tangga kesuksesan ini tidak pernah menjadikan kesulitan, tantangan dan pengorbanan sebagai kegagalan. Mereka menjadikan kesulitan dan kegagalan sebagai bagian dari proses perjalanan suksesnya. Resepnya, antara lain, tidak mudah berputus asa, memiliki keberanian mengambil resiko yang terukur, berani mengambil tindakan. Kalau melakukan kegagalan, mereka berusaha memperbaikinya dan terus bekerja, hingga akhirnya mencapai kesuksesan. Tanpa efek naik turun, bukanlah tangga yang terbentuk melainkan benteng tinggi menjulang atau jurang yang dalam menjatuhkan kita dari karier kesuksessan itu. Difoto ini kita memahami dua Objek/model si A dan si B sebagai ilustrasi tangga kesuksessan itu yang berjuang untuk mencapai tujuan. Si A menghadapi tangga kesuksessan itu nampak tidak siap dalam tantangan kehidupan, hal ini tercermin bahwa tujuan yang hendak dicapai sudah hampir nampak. Namun karena kurang siap menghadapi sesuatu Dia nampak tidak mampu dan sudah kehabisan semangat untuk mencapai tujuan akhir. Si B memulai langkah secara bersamaan dengan si A tetapi nampaknya si B memulai sesuatu dengan persiapan dan perencanaan yang mantap untuk mencapai suatu tujuan walaupun sejumlah anak tangga yang harus ditempuh masih panjang dan berliku dia mampu melaluinya. Pada titik yang bersamaan nampaklah bahwa si A sudah tidak mampu untuk melanjutkan perjalanannya sedangkan si B masih tetap tegar. Melalui foto ini mengajak kita generasi muda untuk memahami tentang tangga- tangga kehidupan sebab perjuangan mencapai tujuan membutuhkan persiapan dan perencanaan, Permasalahan tidak menjadikan kita putus asa, Hadapi tantangan dengan penuh percaya diri. Dengan kata lain, semakin besar hidup yang anda inginkan, semakin tinggi tangga kesuksesan yang Anda lalui, maka dari itu semakin besar keberanian menghadapi resiko dan tantangan yang datang. Keberhasilanmu lulus hari ini ibarat keberhasilanmu melewati satu tangga dari belasan tangga kehidupan yang harus kau lalui.

'Gaji Pertama Award' Akan Diberikan Kepadaaa....


Kalau boleh mingjem kata2 syahrinsky atas keberlangsungan lomba ini dengan kalimat: Sesusomething very-very banget . Karena begitulah adanya. Ada sebuah perasaan senang yang abstrak, sulit didefinisikan. Bukan karena tidak jelas bentuknya. Melainkan karena kadarnya terlalu banyak. Melebihi muatan truk container ban 20!. 

Akhirnya tahun ini kami bisa menggelar sebuah lomba lagi. Walau dengan skala kecil tapi ternyata banyak peningkatan yang terjadi. Tahun kemarin jumlah pengirim karya ada 39 orang. Nah tahun ini mencapai angka 52+7. Ada 59 email yang masuk dengan subjek Lomba Foto Perjalanan dan Apresiasi Foto. Angka tersebut memang gak seterkenal km 97 di cipularang, tapi bagi kami yang masih begini-gini aja, angka segitu udah bikin seneng banget. Ternyata respon serta apresiasi kalian untuk kami masih besar. Dan yang paling penting, semangat kita, generasi muda, untuk berkarya sangat tinggi. Sedikit banyak, kami berharap hal kecil yang kita lakukan ini bisa membawa fotografi indonesia ke arah yang lebih seru lagi. Uhuy.  Padahal hadiah lomba ini nggak seberapa, nggak ada tai-tainya dibanding karya dan semangat kalian. Padahal prestasi ini nggak cukup kredibel untuk dicantumin di CV. Uh..

Akhir kata, MALU mengucapkan terima kasih lahir-batin untuk apresiasi dan konstribusi kalian semua, lalu kepada semua pihak yang membantu berjalannya acara ini, dan kepada kepada kepada lainnya..

Tetap setia bersama kami pren, kami ada karena kalian semua memangterlalu!

Tunggu event berikutnya ya, Salam MemangTerlalu!


dan ini dia yang terpilih

Juara 1:

Idham Rahmanarto – untitled 
Berhak untuk hadiah: Traveller Drybox 

Juara Favorit:

Bagus Galih Hastosa – Gunung Batur 
Berhak untuk hadiah: Kaos Fotografi Memangterlalu: Merk Kamera Bukan Agama Kreatifitas Yang Utama


dan inilah foto-foto terbaik dari yang paling the best lainnya



Dan inilah 10 foto terbaik dari yang paling the best:


Primus Fransiskus
Judul: PT. KAI (Pak, Tolong Kami Antarkan Impian)

Fathurrahman Hibban
Judul: Sahabat

Muhammad Kahfi
Judul : Saya Pulang

Juliardy Yuwono
untitled

Putri Fitria
untitled

Rangga Prayuga
Judul: KAWAH GUNUNG PAPANDAYAN

Ngusman
Perjalanan Spiritual

Muhammad IQbal
Judul: MENUJU BROMO!


...bersambung ke sini

Rabu, 28 September 2011

"Yesterday": A Mixed Media Photography Exhibition

"Yesterday" a Mixed Media x Photography exhibition by Kelas Pagi Jakarta

Oct 1st-7th
@ Guddang Gallery
(Jl. Panglima Polim V No. 38)


WORKSHOP (FREE)

2 Oktober 2011 (19.00 – 21.00 WIB)
Styling for Movie & TVC: Tips & Tricks (Klara Isabella - Film & TVC stylist)

3 Oktober 2011 (19.00 – 21.00 WIB)
Beauty in Fashion Photography (Nurulita)

4 Oktober 2011 (19.00 – 21.00 WIB)
Lomography (Satria Ramadhan - Lomonesia)

5 Oktober 2011 (19.00 – 21.00 WIB)
Movie Making: "Limited Budget, Why Not?" (Paul Agusta & Kyo Hayanto)
Screening film: "At the Very Bottom of Everything" (Director: Paul Agusta)

6 Oktober 2011 (19.00 – 21.00 WIB)
"Experimental Mixed Media: Mixed Your Life Up!"  (Yongkek)

twitter : @kelaspagijkt

[Patut Diberi Salut] Rian Afriadi: Dari Empty Snapshot Jadi Narrative Documentary Photos

Jika ditanya siapakah fotografer lokal favorit, maka saya akan menyebutkan nama Rian Afriadi sebagai salah satunya. Sejak saya pertama mengenalnya melalui forum berinisial FN itu di pertengahan 2009, foto-foto Rian semakin hari semakin memuaskan mata saya. Jika diawal-awal foto-fotonya hanya sebatas apa yang Rian sendiri menyebutnya sebagai “empty snapshot”, kini saya selalu ditawarkan foto-foto snapshot kaya akan interaksi. Cerdas!
 

Minggu, 25 September 2011

Tamasya Visual Bersama Klastic dan Lomonesia di “JAKARTA...”



     Para penggemar serta pegiat fotografi lo fi yang tergabung dalam Lomonesia dan Klastic berduet mengadakan sebuah pameran yang bertajuk “JAKARTA...” pada 24-25 September. Art Center, Museum Bank Mandiri dipilih sebagai tempat hajatan ini berlangsung. Pilihan tempat yang tepat, keunikan serta kelawasan gedung selaras dengan karakter foto yang dipamerkan. Ruang pameran yang terletak rada di pelosok gedung pun membuat pengunjung bertamasya melewati relung-relung jiwa si gedung tua itu. Tsaaah.

Rabu, 14 September 2011

Menilik Memori Perjuangan Untuk Merayakan Kemerdekaan

DSC_3925_800x532
Ada berbagai macam cara untuk merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia, salah satunya ialah dengan menampilkan ulang memori perjuangan kemerdekaan melalui foto-foto, seperti yang dilakukan oleh Galeri Foto Jurnalisik Antara (GFJA). Sejumlah 66 foto hasil jepretan Mendur bersaudaran dan rekan-rekan di Indonesian Press Photo Service  (IPPHOS) ditampilkan sejak 20 Agustus hingga 19 September 2011.



Kamis, 08 September 2011

Keindahan dalam Penderitaan: “Beauty is Pain(t)”

Pernahkah kalian berpikir mengapa wanita yang berbadan tinggi, ramping bermuka runcing, berrambut lurus, dan berbibir merah tipis itu disebut sebagai cantik? Ah, kalian pasti sudah sama-sama tahu bahwa wacana tubuh cantik adalah sesuatu yang dibentuk. Di era sekarang begitulah kira-kira syarat untuk ‘menjadi’ cantik. 

oke, pertanyaan berikutnya. Siapa yang nggak mau dibilang cantik? siapa yang tidak ingin dipuji? saya yakin kita semua pasti akan senang bukan kepalang kalau ada yang berkata atau  setidaknya menganggap kita cantik. Itu lah sebabnya cantik menjadi pencapaian bagi setiap manusia. dan sialnya, hal ini ternyata nggak lepas dari kendali industri. Industri (baca: kapitalisme) menawarkan konsep-konsep itu, bahwa kita, terutama kaum wanita harus menjadi cantik. Cantik adalah cara ampuh untuk menjadi pusat perhatian. 

Rabu, 07 September 2011

66 tahun RI: Dari Pegangsaan sampai Rijswijk



Dari Pegangsaan sampai Rijswijk

Menyambut 66th proklamasi kemerdekaan Indonesia,Galeri Foto Jurnalistik Antara menampilkan goresan visual Mendur Bersaudaran dan rekan sejawat mereka yang tergabung dalam Indonesian Press Photo Service alias IPPHOS Coy Ltd. Berbeda dengan foto-foto IPPHOS yang ditampilkan GFJA pada 2 tahun yang lalu, kali ini sebagian besar dari koleksi yang ditampilkan adalah karya yang jarang atau bahkan lolos dari publikasi baik dalam siaran media dan juga dalam buku pendidikan sejarah kita. Rangkaian coretan visual semenjak proklamasi kemerdekaan di Pegangsaan Timur (17 Agustus 1945) sampai pertama kali perayaan kemerdekaan di Istana Merdeka/Rijswijk (17 Agustus 1950). Peringatan kemerdekaan kita yang pertama setelah 5 tahun tersingkir dalam pemerintahan di pengasingan, di Yogayakarta yang penuh dengan pergolakan. Pergulatan menuju ke penyerahan kedaulatan RI.

66 tahun Republik Indonesia, 66 kartupos peristiwa bersejarah, 66 karya yang di pamerkan di gedung bersejarah Antara Pasar Baru. Tempat kabar proklamasi Kemerdekaan negeri kita di siarkan untuk pertama kalinya ke seluruh penjuru dunia pada 17 Agustus 1945, menjadi semacam muara pertemuan fotografi jurnalistik dan penyiaran kabar gembira lahirnya suatu janin bernama Indonesia,di persimpangan sejarah yang nilainya semakin dilupakan masyarakatnya.

66 karya foto Mendur Bersaudara dan IPPHOS mengantar kita mengarungi samudra sejarah besar bangsa ini untuk disaksamai dan menjadi inspirasi sekarang agar garuda tak perlu lagi terpekur menatap rantai-rantai putus yang tadinya kokoh menggantung lempeng besi butir2 visual pancasila. Dari Rijswijk alias Istana Merdeka sekarang semua beban itu harus dipertanggung jawabkan dalam bentuk penegakan hukum yang absolut. Kebijakan yang memihak publik dalam arti seluasnya, untuk semua golongan. Supaya hak kemajemukan kita berbangsa terlindungi sepenuhnya. Sama persis ketika Republik ini disepakati dibentuk dari beragam berbedaan, pada suatu Jumat pagi tanggal 17 bulan delapan tahun empatlima.
Bersatu kita teguh, bercerai Emang Gue Pikirin?

oscar motuloh
kurator

Rangkaian Acara:
Pembukaan: 19 Agustus 2011 pk 20:00
dibuka oleh: Setiawan Soemanang, Bambang Sulistomo, Soedarmadji Damais dan Ahmad Mukhlis Yusuf

LIVE: BLUES UNTUK KEMERDEKAAN
menampilkan compromised EGO

Pameran Foto:
20 Agustus -19 September 2011
Jam buka pk.10:00 - 19:30
(kecuali hari Senin & hari libur)

Temu Wicara: Sabtu, 10 September 2011 Pk. 16:00
Fotografi Sejarah & Refleksinya atas Kreativitas
Oleh: Yudhi Soerjoatmodjo

Acara ini didukung oleh:
GALERI FOTO JURNALISTIK ANTARA (http://www.gfja.org/)
DIVIS PEMBERITAAN FOTO ANTARA (http://www.antarafoto.com/)
PAPERINA DWIJAYA (http://www.paperina.com/)
GLOBE DIGITAL IMAGING
YAYASAN DELASIGA (http://www.nias-bangkit.com/tag/yayasan-delasiga/)
GAMBARA (http://www.nias-bangkit.com/)
MAJALAH WARISAN (http://www.warisanindonesia.com/)
VSEE
NEO JOURNALISM CLUB
BLUES 4 FREEDOM

GRATIS / Tidak dipungut Biaya

Jumat, 02 September 2011

Karimun Jawa Run by Budi Respati

Bekerja dan kuliah seolah menjadi semacam tuntutan hidup bagi manusia perkotaan. Kedua hal itu jadi memang membawa banyak keuntungan. Kita bekerja untuk dapet uang, kita kuliah biar dapet pengetahuan. Tapi tapi tapi.. ketika hal-hal itu dilakukan secara berulang-ulang dengan pola yang sama, pelan-pelan kita bakal sadar kalau ternyata kita sedang terjebak dalam labirin bernama rutinitas.

Lalu hal apakah yang paling tepat untuk dilakukan?

Tiada lain dan tiada bukan ialah berlari. Kita lari keluar dari kota, lari keluar dari rutinitas dan mengistirahatkan jiwa. Sudah pasti pantai ialah tempat yang paling indah yang tidak mungkin kita temukan di kota.

Ada kalanya berlari tidak cukup untuk mengekspresikan kesenangan kita. Saat kita merasa seperti itu, berlari sambil terbang bisa menjadi pilihan, seperti yang dilakukan oleh Budi Respati dalam foto serialnya yang berjudul Karimun Jawa Run ini.

Subjek yang terlihat pada foto adalah si mas Budi itu sendiri. Ia memasang pose lari di udara di berbagai tempat di sekitaran pantai. Di karang, di atas perahu, di pinggir pantai, dan di dalam air. Bahkan ia tak hanya lari di udara, melainkan juga di dalam air. Hmm.. Seperti yang kita tahu, berlari dalam air hanya akan membuat diri capek sendiri.

Di banyak foto, ekspresi mukanya yang polos, comical dan cenderung childish walau berkumis itu seperti menunjukkan kalau dia berlari tidak untuk mengejar sesuatu,  Pokoknya si subjek hanya ingin berlari. Tanpa pretensi. seperti anak kecil yang di lepas ibunya di tempat terbuka. Berlari-lari tanpa kenal arah.

Lalu di foto terakhir ia terlihat tertidur di atas kasur, tetap dengan pose berlarinya, seolah sedang melindur seperti anak kecil yang belum mau berhenti bermain namun malam sudah memanggil, maka ia akan meneruskannya di dalam mimpi.

Budi berlari, membebaskan dirinya dari rutinitas kota. Budi berlari sambil terbang, menghidupkan kembali imajinasi kekanak-kanakannya, hal yang biasa disembunyikan oleh kedewasaan. 

249334_2307509294252_1444904488_32694973_5263537_n

223174_2307509454256_1444904488_32694974_8367557_n 254782_2307509934268_1444904488_32694976_729563_n 285467_2307510734288_1444904488_32694982_6329749_n  189359_2307509614260_1444904488_32694975_6818087_n 254634_2307510054271_1444904488_32694977_217433_n 198736_2307510214275_1444904488_32694979_5038273_n 281988_2307510334278_1444904488_32694980_2006037_n 284250_2307510614285_1444904488_32694981_7129252_n

283167_2307510894292_1444904488_32694983_5696294_n

Budi Respati adalah seorang fotografer yang bekerja pada sebuah studio foto di bilangan Bandung. Pemuda kelahiran 1986 yang aktif di organisasi-organisasi fotografi selama kuliah ini juga hobi bersepeda dan berjalan-jalan, lho. tertarik untuk kenalan? coba kontak fb nya di sini

Minggu, 28 Agustus 2011

Ajak serta imajinasi, mari kita membaca foto dan menuliskan apresiasinya

Pernah kebayang nggak kalau di dunia ini cuma ada orang-orang yang  pandai menulis, tapi nggak ada kalangan yang  pandai membaca. Apa yang kita tulis mati begitu saja. Kita menghasilkan sesuatu yang sia-sia. Tidak dapat dikonsumsi dengan baik. Ungkapan ini memang rada absurd dan mustahil. Menulis dan membaca itu  satu paket. Kita belajar menulis sekalian belajar membaca. Tidak mungkin terpisah. Sayangnya, hal ini tidak terjadi dalam persilatan fotografi. Kita hanya terbiasa ‘menulis’ tanpa bisa pandai ‘membaca’ foto.

‘Menulis’ dalam kamus fotografi sama dengan menghasilkan sebuah foto. Menulis itu perihal teknis. Kita butuh alat. Kita butuh keterampilan agar bisa mengendalikan kamera-pena penghasil foto-.  Jika Kita hanya membicarakan bagaimana menghasilkan ‘tulisan’ bagus, yang sama seperti orang kebanyakan. Kita jadi seperti anak-anak yang senang memamerkan alat-alat tulis di tempat pensilnya.

Sementara membaca ialah perihal intelektual. Membaca adalah menerjemahkan simbol-simbol untuk kemudian bisa dibasakan. Sepertinya ungkapan “Biar foto yang bicara” atau “foto berbicara lebih dari seribu kata-kata” akan menjadi sia-sia jika ternyata tidak ada yang bisa mendengar foto berbicara, tidak ada yang bisa menerjemahkan seribu kata yang dibahasakan oleh foto. Sayang rasanya kalau sebuah foto kita hanya baca pada permukaannya saja. Ibarat membaca buku. Kita cuma baca kata pengantarnya doang. Nggak kita baca sampe habis. Ibarat ke pantai tapi Cuma duduk di mobil. Ibarat dengerin lagu cuma musiknya doang, nggak tau liriknya.

Sebelum kita mulai, ada satu hal yang kayaknya penting untuk diketahui. Sebuah karya seni, termasuk foto itu tidak untuk dimengerti melainkan untuk dirasakan. Mengapa? karena pengertian itu sifatnya seolah harus mutlak, sementara perasaan adalah sesuatu yang personal.

Nah, mulai sekarang yuk lah kita pelan-pelan belajar membaca foto. Mari kita lupakan teori. Semiotika apalah itu. Nih, MALU mau coba kasih sedikit kiat-kiat yang semoga bisa membimbing kita semu dalam membaca foto lalu menuliskan apresaisi atas foto tersebut.

1. Deskripsi

Ini bisa menjadi langkah awal untuk kita menikmati foto. Perhatikan baik-baik foto itu. Perhatikan dengan seksama setiap hal yang ada dalam foto. Foto adalah bahasa, maka objek-objek yang ada didalamnya adalah kata-kata. Kumpulkan dan jabarkan sebanyak-banyaknya temuan dari hal yang terlihat dari foto itu. Komposisi, warna, cahaya, bentuk, pakaian, ketajaman, ukuran dan jenis kertas menjadi hal-hal yang sekiranya perlu diperhatikan. Ceritakan juga apa yang terjadi pada foto seperti apa bentuk subjek (manusia)nya, apa yang subjek sedang lakukan pada foto. Komposisi juga hal penting perlu diperhatikan, amati letak tiap objek, dan seberapa besar porsinya di foto. Pokoknya di tahap awal ini, kita harus seperti detektif deh.

2. Tuliskan kesan personal dan interpretasimu

Setelah banyak temuan yang kita deskripsikan coba selami foto itu. Di tahap ini, kita butuh sedikit perenungan. Kita perlu merasakan dalam-dalam keterkaitan objek-objek dalam foto itu. Ajak serta imajinasi, pengalaman dan pengetahuan kamu untuk ikut menentukan kesan terhadap foto. Sebuah foto pasti membawa kesan yang berbeda-beda kepada tiap pemirsanya.

Misalnya ketika ketika melihat foto awan kesan yang timbul adalah perasaan bahwa kita sedang jatuh dari langit, dan apa yang kita lihat hanya lah awan, awan dan awan. Atau ketika melihat kaki yang melayang tertupi semak belukar taman, imajinasi kita mengantarkan kesan seperti sedang melihat manusia yang diculik oleh alien.

3. Riset dan kumpulkan fakta-fakta terkait.

Di tahap ini, kita kudu mencari tau pemahaman umum atau fakta-fakta mengenai objek-objek yang terlihat pada foto. Misal, ketika kita akan mengapresiasi foto fashion yang berlatar bangunan kuno, kita kudu cari tau fakta-fakta tentang bangunan kuno itu, juga tentang baju apa yang dipakai oleh si model, dan apa arti baju atau bangunan itu bagi masyarakat. Atau ketika kita akan mengapresi foto landscape, kita perlu tau tempat apa yang difoto itu, dan seluk-beluk (sejarah, mitos, peristiwa) mengenai tempat itu.

Di sini, kita boleh menghubung-hubungkan foto dengan isu, peritstiwa atau permasahan yang lebih besar. Kita bisa saja menganggap bahwa sebuah foto adalah representasi dari sebuah realita. Nah, setelah itu coba rasakan, mengapa realita tersebut direpresentasikan seperti ini. Misalnya, ketika melihat foto Holy Warnya Agan Harahap kita bisa saja menghubungkan ke isu terorisme, bahwa ternyata banyak pihak yang mengatas namakan kesucian agama untuk berperang.

4. Opini

Setelah berkelana merasakan makna foto, di tahap ini kita tuliskan opini kita terhadap foto tersebut. Bentuknya bisa apresiasi yang bersifat memuji, bisa juga yang bersifat kritik. Nggak perlu takut kalau nanti ada yang nggak setuju sama opini atau kritik kita.

5. Kesimpulan dan penutup

Penting nggak penting sih ni sebenernya. Tapi keberadaannya akan sangat membuat tulisan jadi enak dibaca. Tulisan jadi nggak gantung tanpa diberi penyelesaian gitu deh. Hehe..

Oke, kira-kira begitulah kiat-kiat dalam menulis apresiasi foto. Hmm, sekiranya ada banyak cara untuk kita membaca dan mengapresiasi foto. So, kalau ternyata tulisan ini justru membingungkan, kalian boleh mengabaikan apalagi kalau ternyata kalian sudah punya cara tersendiri. Semoga bermanfaat..

Minggu, 21 Agustus 2011

Gaji Pertama Award: Kompetisi Fotografi Memangterlalu


Wow. tidak lah terasa, sudah setahun ternyata. Semenjak Lomba Fotografi MemangTerlalu yang pertama itu. Tahun ini, di bulan Puasa juga. Kami mau sedikit bagi-bagi Rezeki lagi. Kebetulan para pendiri MALU wisuda dan dapet kerja di waktu yang nggak jauh berbeda. Udah pasti penerimaan gaji pertamanya juga nggak jauh beda. Jadi, sebagai bentuk perayaan dan syukurin, kami mau ngadain hajatan dalam bentuk lomba: Gajih Pertama Award! Sedikit sesumbar sih tapi nggak apa-apa lah. Namanya juga anak muda, Tuhan pasti ngerti. Yuk, mari kita menghitung Lomba sebelum tidur.
Masih sama seperti tahun kemarin, ada dua kategori lomba di sini: menulis dan memotret. Bedanya, taun kemaren kami menantang untuk bikin quote tahun ini kami ingin menantang kalian untuk nulis apresiasi foto. Berikut ini penjelasan singkat mengenai lomba MALU kali ini :


1. LOMBA FOTO
• Tema : Perjalanan
Perjalanan adalah proses berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu situasi ke situasi yang lain. Hal yang pasti terjadi dari perjalanan adalah perubahan. Entah itu perubahan tempat, perubahan perasaan atau apa pun. Perjalanan, baik yang singkat mau pun yang jauh, pasti meninggalkan jejak dan menyisakan memori. Dalam hal ini fotografi adalah teman yang baik, ia bisa mengingat sepersekian detik ruang dan waktu yang kita telah lalui. kali ini MALU mengajak teman-temin semua untuk memenjarakan memori dan atau interpretasi kalian tentang perjalanan melalui media bernama kamera. Nah Walaupun tema-nya perjalanan, kalian bebas mengekspresikan apa saja mengenai perjalanan ini. Bisa jadi memori saat perjalanan mudik, atau pemandangan yang kalian liat saat berjalan. pokoknya apa pun lah.. Berbagai genre fotografi boleh kalian kirim, namanya juga anak muda suka coba-coba sambil minum coca-cola.. hehe

• Bebas menggunakan kamera apa pun dan kamera siapa pun..
• Size : Sisi terpanjang 1200px, sisi terpendek mengikuti
• Format : JPEG
• Proses editing hanya boleh sebatas proses editing kamar gelap (brightness, contrast, convert BW, burning, dodging, crop)
• Boleh menggunakan kamera jenis apa pun.
• Cantumkan sedikit keterangan tentang foto (Max. 2 kalimat)
• Satu orang diperkenankan hanya untuk mengirimkan 1 foto,
• Sertakan juga profil (Nama, Alamat, Email, No Hp, website pribadi)
• Kirim karya kamu ke: memangterlalu@gmail.com, Dengan subject : "Lomba Foto Perjalanan MALU "
• Deadline karya : 20 September 2011
• Juri: Tim Memangterlalu
• Juara:
Juara 1:
Keterangan: dipilih oleh dewan juri
Hadiah: Traveller Drybox.
Juara favorit
Keterangan: 10 nominasi foto terbaik akan kami upload di Facebook untuk kita publikasikan, dan akan kita umbar juga via twitter untuk kemudian dipilih oleh publik. Peserta dilarang nge-tag temen-temennya. Dan Yang paling banyak dapet jempol adalah yang menang.
Hadiah: Kaos Memangterlalu


2. Lomba Menulis Apresiasi Foto


"Biar Foto yang Bicara"  kalian pasti tau slogan itu. Ya, foto memang menyimpan banyak hal untuk dibicarakan. Tapi kadang kita malas untuk mendengarkannya dengan seksama. Nah, kami mau ngajak kalian nih, untuk menyimak sebuah foto lalu menuliskan apreasiasimu yang lebih panjang dari sebatas tiga jempol dan komentar singkat "nice photo mas", "wah ini KT mas" atau "Keren BWnya, salam BW". Kasarnya untuk kategori ini kalian diminta untuk nulis komentar terhadap foto. Mengapresiasi foto. Menyelami dalam-dalam tiap unsur dalam foto lalu menuliskan kesan serta interpretasi kalian terhadap foto tersebut.

SYARAT DAN KETENTUAN:
·         Kalian bebas untuk menentukan foto yang akan diapresiasi, asal si fotografernya berasal dari Indonesia. Coba buka folder favorite di galeri DA atau flickr kamu. Terus pilih satu deh yang menurut kalian paling the best.
·         Kalau kamu bingung milih fotonya. Nih, kita beri beberapa foto yang kami suka untuk kalian apresiasi. Pilih salah satu yah..

untitled - Bey Shouqi

untitled - Debbie Tea


Holy War - Agan Harahap
(diambil dari series Holy War)


·         Ditulis di microsoft word dalam dengan font apapun asal jangan webdings. Panjang tulisan minimal 250 kata. Maksimal, hmm perlu dimaksimalin nggak nih? Kayaknya nggak usah yah, jadi kalian boleh mengapresiasikan foto sedetail mungkin.
·         Kalian bebas menuliskan apresiasi dalam bentuk apa pun. Mau yang berbentuk puji-pujian, kritik, atau bahkan puisi. Pokoknya tuliskan pengalaman yang kalian dapat setelah melihat foto itu.
·         sedikit clue: untuk mengapresiasi sebuah foto, ada baiknya kita tidak perlu begitu memikirkan maksud si fotografernya. anggap saja si Fotografer pergi antah berantah. Interpretasikan seluruh unsur dan keterkaitan antarnya sebebas-bebasnya. Tanpa perlu mikir maksud dari si fotografernya. Ketika suatu karya sudah jadi dan disebar ke publik, maka makna dari karya itu adalah milik publik.
·         Kirim ke email MALU: memangterlalu@gmail.com. Jangan lupa cantumkan juga foto yang kamu apresiasi.  Tulis dengan Subject :  Apresiasi Foto
·         Paling lambat diterima tanggal 20 September 2011.
·         Sertakan juga profil (Nama, Alamat, Alamat Email, No Hp, website pribadi)
·         Juri: Kurniadi Widodo
·         Juara:
Juara 1: Tas Kulit Kamera. (keren deh pokoknya)
                Keterangan: dipilih oleh dewan juri
                Hadiah: Leather camera bag.
Juara favorit                      
                5 nominasi apresiasi terbaik akan kami upload di Facebook untuk kita publikasikan, dan                 akan kita umbar juga via twitter untuk kemudian dipilih oleh publik. Peserta dilarang nge-tag temen-temennya. Dan Yang paling banyak dapet jempol adalah yang menang.
                Hadiah: Kaos Memangterlalu

Minggu, 10 Juli 2011

Visualisasi Gaya Hidup Anak Muda dalam “#JEJARINGSOSIAL”: Sebuah Ulasan Pameran.

 
P7060150-2_450_600
Beberapa tahun ke belakang ini, kita memang ditawari sebuah konsep baru dalam bersosialisasi. Tidak membutuhkan ruang yang berwujud, cukup seperangkat komputer atau handphone dan koneksi internet kita sudah bisa mengakses dunia, meringkas jarak. Ungkapan ‘jauh di mata dekat di hati’ pun bergeser sedikit menjadi “jauh di mata dekat di facebook, dekat di BBM, dekat di Twitter”.
Inovasi dalam suatu masyarakat tidak mungkin datang sendirian. Kekagetan budaya pasti ikut serta diawal kedatanganya menghasilkan sebuah eupohoria. Itulah yang sedang terjadi sekarang ini, kita jadi terlalu banyak tau, kita terlalu ingin tahu, kita terlalu ingin memberi tahu. Teknologi komunikasi menjadi adiktif. Media jejaring sosial ini benar-benar sudah menjaring kita. Jadi susah lepas. Sedikit-sedikit buka Facebook, buka Twitter, buka celana, ehh. Kita menyelami dua dunia sekaligus. Nyata dan maya. Multitasking seolah menjadi suatu kemampuan wajib. Bahkan sampai ada buku yang berjudul “99 Tips Menghindari Skip Akibat Bersosial Media”*.
Sebagai bagian dari umat yang berada di labirin media sosial ini, sekumpulan anak muda dari kelas pagi Anton Ismael angkatan V kelompok 2 menggelar sebuah eksibisi foto bertajuk JejaringSosial. Pameran yang dikurasi oleh Anton Ismael sendiri ini menampilkan karya fotografi yang merespon gejala media sosial.
Galeri Gudang dipilih menjadi tempat pameran. Sebuah galeri mini yang mengambil tempat di lantai dua sebuah cafe. (maaf saya lupa nama cafenya). Kita perlu melewati ruang makan cafe terlebih dahulu, lalu masuk ke sebuah koridor. Di situ lah foto-foto mulai di pajang. Langkah pertama kita di lorong tersebut disambut oleh petak-petak logo beberapa media sosial yang dibubuhi kalimat “Don’t follow me”. Sisanya, foto-foto dipajang di lantai dua.
Hal yang paling sering ditampilkan ialah tentang bagaimana media sosial menjadi candu. Ada foto yang menampilkan seseorang sedang membaca Koran yang tampilannya serupa dengan facebook. Ada yang menampilkan kolase foto berisi kehidupan anak muda sukses dan anak muda yang selalu bermalas-malasan menghabiskan waktu dengan media sosial. Bahkan ada foto yang menampilkan situasi di dalam ruang praktek dokter, dimana si dokter tetap memperhatikan news feed Facebook sembari merawat si pasien. Haha. Foto yang niat. O iya, ada juga foto yang mengilustrasikan fenomana berdoa di facebook atau twitter. Haha.
Secara keseluruhan, saya sedikit terganggu dengan olah digital yang sangat kentara di beberapa foto. Walau pun hanya sedikit namun malah mengurangi nilai fotografis foto tersebut. Penambahan teks dan awan bicara misalnya, membuat foto tersebut lebih terlihat seperti sebuah poster atau iklan. Pada seri foto “Autis Mau Eksis” karya M. Husni misalnya, menampilkan awan bicara dalam ukuran cukup besar yang berisi tulisan “at PIM, nemenin mamah belanja!” untuk menjelaskan isi pesan yang sedang ditulis gadis melalui Blackberry. Hal ini membuat saya jadi berpikir, betapa sulitnya memang fotografi bisa bercerita tanpa harus ada teks yang mendampinginya.
Melihat seringnya penggunaan logo dari berbagai media sosial saya jadi benar-benar mengira ini seperti iklan provider telepon. Seperti tidak ada cara lain untuk menandakannya. Terlalu eksplisit. Walau pun penggunaannya berbeda-beda, tapi ekplorasi untuk mencari penanda-penanda lainnya kurang terasa. Hanya beberapa foto yang berani tampil tanpa terlihat sedikit pun tampilan media sosialnya itu sendiri. Padahal, kalau dipikir-pikir, melalui judul pamerannya saja, pemirsa sudah tau kalau foto-fotonya pasti menyoal fenomena media sosial.
Daripada menyebut pameran ini sebagai bentuk kritik terhadap fenomena media sosial sepertinya lebih tepat disebut sebagai visualisasinya saja. Sebuah visualisasi atau ilustrasi atas gejala yang terjadi pada kehidupan mereka, atau bahkan pada diri mereka sendiri. Sepertinya tidak mungkin kan, kalau kita mengkritik sesuatu yang padahal kita terlibat di dalam sesuatu tersebut.
Well, mengacungi jempol untuk pameran ini sepertinya tidak ada salahnya. Saya yakin persiapan mereka matang. Pastinya pameran ini bakal lebih memotivasi untuk berkarya yang lebih eksploratif lagi.
Salut untuk Anton Ismael yang telah memberikan kita, para anak muda, wadah untuk belajar dan berekspresi dalam fotografi. (Rizki Ramadan)



*dijual di toko buku yang terletak di alam imajinasi penulis.
P7060154-2_450_600
P7060142-2_800_600  P7060152-2_800_600P7060146-2_800_600