Rabu, 07 Desember 2011

iPhoneography: Era Baru Fotografi Digital

“We shape our tools and thereafter our tools shape us,” begitulah tulis Marshall McLuhan dalam buku Understanding The Media yang pertama kali terbit pada 1964. Manusia menciptakan suatu benda, lalu benda itu berbalik membentuk budaya kita. iPhone pertama kali rilis pada 29 Juni 2007. Hingga tulisan ini dibuat, iPhone sudah sampai pada generasi keempat. Berbagai perangkat intelejen (iDevice) serupa pun dikembangkan: iPod dan iPad. Sejak kemunculannya itu pelan-pelan iDevice menciptakan fenomena baru dalam fotografi. Istilah fotografi pun menjadi cair. Pada iDevice, fitur kamera mini canggih serta berbagai software editing foto memunculkan tren iPhoneography, sebuah era baru fotografi digital pun dimulai.

Kamera mulai ditanamkan di iPhone sejak iPhone 3G dengan resolusi 2 megapixel. Lalu di iPhone 3GS fitur kameranya mulai meningkat menjadi 3,2 megapixel. Kemampuan merekam video pun sudah ditambahkan. Jika disandingkan dengan kamera digital konvesional, hasil foto iPhone 3GS nyaris sama. Baru di iPhone 4G kameranya sudah 5 megapixel. Sejalan dengan iPhone, teknologi kamera pada iPod dan iPad pun dikembangkan. Hasil foto yang lebih tajam pun bisa didapatkan. Sensasi baru dalam berfotografi pun muncul, kita hanya perlu mencolek layar untuk mengambil foto. 

Kehadiran software-sofware fotografi untuk iDevice (iPod, iPhone dan iPad) tak kalah membawa pengaruh. Salah satu yang paling fenomenal adalah Instagram. “Fast beautifull photo sharing for your iPhone” itulah bunyi slogannya. Ya, software rilisan Oktober 2010 ini memudahkan kita untuk mengambil foto, lalu membuatnya indah dengan merubah tonal warna melalui sejumlah pilihan filter dan men-share-nya dalam layanan media sosial yang disediakan. Layanan media sosial Instagram pun sudah pasti terintegrasi dengan media-media sosial lainnya seperti Facebook, Twitter, Tumblr, dll.

Kehadiran Instagram ini mendapat respon positif di kalangan pengguna iDevice. Apalagi kini adalah eranya manusia menduplikasi diri di kehidupan media sosial. Terbukti, Wikipedia mencatat bahwa di tahun pertamanya ini, Instagram telah berhasil mengumpulkan 10 juta pengguna. Pada catatan bulan Agustus pun terhitung sekitar 150 juta foto yang sudah diunggah. Menakjubkan!

Di Indonesia, sebagai respon atas kegandrungan terhadap iPhoneography ini didirikanlah komunitas berbasis di dunia maya, iPhonesia (iDevice Photographer Indonesia) pada 12 Januari 2011. Hingga September 2011 sudah ada lebih dari 1300 anggota yang tergabung di mailing list-nya. Bahkan hastag #iphonesia yang berlalu lalang di Instagram dinyatakan sebagai lima besar se-dunia.

Pada 29 September – 2 Oktober 2011 bertempat di Plasa Indonesia lt. 4 dan Atrium EX, Jakarta komunitas iPhonesia menggelar sebuah pameran fotografi yang diberi judul Indonesia Through My iPhone: A Charity Exhibition by iPhonesia. Sejumlah 100 foto dipamerkan sekaligus dijual pada gelaran ini. Hasil penjualannya tentu saja akan disumbangkan pada yayasan sosial.

Bertindak sebagai dewan juri adalah Edwin Rahardjo, seorang pemilik galeri seni ternama, Indra Leonardi, fotografer profesional serta Tazran Tanmizi, pelukis sekaligus kolektor karya seni. Melihat reputasi ketiga juri serta besarnya gelaran ini, tak salah jika kita menganggap foto-fotonya adalah representasi dari foto-foto indah lainnya yang tersebar di media sosial iPhonesia.

Tak hanya menarik di mata, foto-foto berformat kotak dan dicetak pada bahan logam itu pun menarik untuk dicerna imajinasi. Permainan komposisi dan framing menjadi salah satu jurus untuk memanjakan mata pemirsa. Efek-efek warna yang dijadikan bumbu pada foto pun mampu menyirap mood kita ke suasana tertentu: dari dark, gloomy, hingga tonal warna secerah pelangi. Efek-efek high dynamic range (HDR) yang kerap digunakan para fotografer profesional pun tampil dibeberapa foto.

Merangkum kamera DSLR dan kamera analog.

Kegemaran masyarakat untuk mengabadikan momen melalui fotografi sudah ada sejak waktu yang lama. Sejak era kamera analog hingga kamera digital seperti sekarang ini. Perkembangan teknologi pada kamera pun turut membawa perubahan budaya fotografi kita. Nah, dewasa ini, ada dua tren besar dalam fotografi. Ada kalangan yang gemar memotret menggunakan kamera profesional DSLR. Ada pula kalangan yang gemar mengeksplorasi fotografi analog. Keduanya memiliki kekuatan serta karakternya masing-masing.

Melihat geliat fotografi dengan medium iDevice ini, sepertinya pantas jika iPhoneography kita anggap sebagai rangkuman dari dua tren itu. iPhoneography sekaligus menjawab dua keinginan masyarakat. Pertama, ada kalangan masyarakat yang ingin menggiati fotografi namun enggan membeli DSLR. DSLR adalah perangkat fotografi yang adiluhung. Ada anggapan bahwa tiap pemiliknya pastilah fotografer profesional. Selain itu, harga DSLR itu tinggi namun hanya memiliki satu fungsi, berbeda dengan iDevice, dengan harga yang sama kita bisa melakukan banyak hal, tidak hanya memotret. Kedua, ada juga kalangan yang suka dengan sajian visual foto-foto kamera analog. Namun mereka enggan bersusah-susah melakukan eksperimen untuk memproses foto.

Dengan resolusi 5 megapixel kita bisa mendapatkan gambar yang setara kualitasnya dengan kamera DSLR. Lalu dengan sejumlah filter pengubah tonal warna yang ditawarkan software Instagram kita bisa dengan mudahnya menghasilkan foto-foto dengan warna yang eksperimental khas foto-foto racikan fotografi analog.
Di era iPhoneography ini eksplorasi fotografi bukan lagi perihal coba-mencoba berbagai film, eksplorasi waktu developing film, penyesuaian angka eksposur atau pun menghapal cuaca dan bagaimana efeknya terhadap foto, melainkan penguasaan software-software tersebut. serta kemampuan untuk membeli atau mendapatkan software itu pastinya.

Ke-instant-an yang ditawarkan perangkat ini memang sangat mencengangkan. Pun membuat seolah penguasan teknik itu bisa dinomorduakan. Edwin Rahardjo dalam Pengantar Pameran iPhonesia menuliskan bahwa fenomena ini adalah hal positif asal kita tidak cepat puas dengan hanya mengolah foto melalui software. Selera dan cara pandang fotografis ditambah dengan penguasaan tekniklah yang menuntun kita untuk bisa menghasilkan foto yang indah.

Rizki Ramadan – Oktober 2011

2 komentar:

  1. tito ganteng ganz8 Desember 2011 06.24

    hahahaa gw mau koment tp takut dicap orang sirik ga mampu beli :p

    BalasHapus
  2. yaelah komen aja sihhh.. pret lu to

    BalasHapus