Selasa, 18 Oktober 2011

[Patut Diberi Salut] Hafidz Novalsyah: Membingkai Dunia Dengan Rasa dan Keyakinan


Awalnya, saya ingin mencantumkan tempat ia bekerja di bagian judul untuk menunjukkan betapa dia hebat. Namun, setelah saya membaca jawaban-jawaban serta foto-fotonya, ternyata saya salah, dia memang patut diberi salut apa adanya. Tanpa harus  perlu disebut profesinya sebagai fotografer majalah National Geographic Indonesia sekali pun.

Dia adalah Hafidz Novalsyah, pemuda yang seumuran sama saya. Sayang, kalian tidak begitu tahu berapa umur saya, jadi saya perlu memberi tahu kalau saya dan Hafiz sama-sama berumur 23. Kita juga sama-sama kuliah Komunikasi, sama-sama pecinta fotografi, bedanya Hafiz lebih menggiati dan menjadikannya sebagai profesi, pun tempat kerjanya dianggap mumpuni bagi para pegiat fotografi lainnya. Tapi ada yang satu hal pasti yang membedakan saya dan Hafiz, saya sudah lulus kuliah. Haha. *becanda Fidz.

Menyaksikan foto-foto dokumenter Hafiz itu sangat menarik. Eksplorasi angel dan momennya membuat foto menjadi bernyawa karena bercerita. Kedalaman observasi pun selalu dilakukan  Hafidz ketika akan melakukan pemotretan ke suatu tempat atau acara. Selain itu, rasa dan keyakinan menjadi dua jurus utamanya dalam mengamalkan fotografi dokumenter.

Dari pada ngalor ngidul mending langsung aja kita simak siaran langsung dan bisa diulang-ulang semaumu, hasil wawancara saya dengan bung Hafidz ini. Banyak cerita inspiratif dan ungkapan-ungkapan diplomatis yang patut kita catat dan renungi.

Mari…

Gang Ampiun



Halo hafiz, coba-coba perkenalkan dulu siapakah gerangan dirimu ini? 
Halo, salam kenal nama asli saya Hafidz Novalsyah. Saya tumbuh besar di kabupaten kecil Banjarnegara sampai umur 18, kuliah di Surakarta sampai umur 23 (masih mencoba lulus), sekarang mencari nafkah di Jakarta.

Selidik punya selidik katanya kamu itu fotografernya Nasional Geyogerapik yah.. Tjie.. Gimana rasanya bisa jadi fotografer dari majalah yang paling di elu-elukan para fotografer ini? 
Iya saya sekarang bekerja di National Geographic Indonesia dan pekerjaan utama saya menjadi tukang foto keliling di National Geographic Traveler-Indonesia. Rasanya? Kalau pertanyaan seperti itu ya jadi berat banget. Tapi saya bersyukur bisa bekerja, belajar, dan bekerja di NGI. Saya  merasa sangat beruntung bisa berproses di dunia yang saya tekuni 3 tahun belakangan di seusia saya ini, di dalam “the yellow border”.

Ceritakan juga dong, bagaimana ceritanya kamu bisa bergabung. Kabarnya berawal dari magang yah? Waaaa..
Kabarnya meleset hehe. Saya belum pernah magang di NGI. Saya magang di Antarafoto Semarang dan Jakarta serta di Kompas Biro Jawa Tengah. Perkenalan awal saya dengan NGI sekitar 2 tahun lalu saat kampus saya menyelenggarakan workshop fotojurnalistik, dan salah satu pembicaranya Mas Tantyo Bangun (ex-Editor in Chief NGI). Beberapa saat berikutnya saya mendapat kesempatan sebagai kontributor untuk NGT hingga akhirnya dipanggil ke Jakarta oleh Mas Reynold Sumayku (Editor Foto NGI).

Warna-warni-Sehari-hari

Jamu The Old Fashioned

Bagi kamu Natgeo itu apa? Setelah bekerja di Natgeo, pelajaran seru apa yang kamu dapat (khususnya ttg fotografi)?
National Geographic bagi saya mungkin tidak terlalu berbeda dengan National Geographic bagi orang lain, si yellow border ini adalah majalah dan channel yang menjadi rujukan visual yang luar biasa dan sumber informasi tentang alam semesta. Dari jendela kuning itu kita seolah bisa "melihat" ke sisi lain dunia ini dengan "bingkai" yang penting dan menakjubkan. 

Lalu, pelajaran seru apa yang kamu dapat dari kerja di sana? 
Sesuai pekerjaan utama saya sebagai fotografer, pelajaran utama sudah tentu di bidang fotografi. Di sini saya membiasakan diri bekerja dengan "rapi". Setiap ide artikel yang ada akan didiskusikan bersama Editor Foto, Editor (NGI/NGT) dan juga Art Director (bahkan dengan designer-nya langsung). Hal ini membuat pengembangan cerita menjadi matang, sinkron dengan tulisan, dan tersaji indah di halaman majalah. Dalam proses fase-fase ini fotografer sangat dihargai sebagai pencipta visual cerita yang memiliki ide, kreativitas, dan opini sendiri (benar-benar menjadi fotografer, bukan tukang foto). 

Wah asik juga yah, jadi kalau udah kerja di media kita nggak bisa memaksakan subjektivitas kita yah. Harus bisa disesuaikan dengan alur cerita dan konsep.Lanjut!
Serunya, saat mendapat penugasan tentang orangutan dan restorasi hutan, saya belajar banyak dari pelaku pelestari satwa dan hutan, selain itu saya juga harus mengkaji sejumlah buku sambil mengingat serpihan pelajaran di SMP dan SMA yang berkaitan. Di penugasan berikutnya saya menjadi fotografer dari artikel tentang sejarah, Identitas yang punah tentang hilangnya nama-nama asli sejumlah daerah di Jakarta. Saya banyak berdiskusi dengan staf NGI yang lain dan juga penulisnya yang seorang historian. Otak saya serasa di-shift dari alam ke sejarah. Saat lelah, saya berpikir kalo otak saya terus dipekerjakan begini dan menjadi terbiasa, saya berharap bisa jadi orang yang lebih bermutu, setidaknya menurut saya sendiri haha.

Patung Nani Wartabone
Ngarot

Tuh fren, fotografi itu bukan perihal motret belaka, kita juga kudu melakukan riset-riset untuk mendukung. Terus, petualanganmu motret udah ke mana aja? Ada cerita atau pengalaman seru nggak selama travelling? 
Kalo pengalaman secara geografis, lebih banyak saya dapat dari penugasan NGTraveler. Tahun ini ada dua liputan geoturisme utama yang saya kerjakan, yaitu Nias dan Gorontalo. Hampir semuanya seru ya, karena untuk membuat foto travelling yang lebih "hidup" kita juga harus menghidupkan perjalanan itu dengan menikmatinya dengan benar, perjalanan yang sustainable tentunya. Berbaur dengan penduduk dan local genius di tempat-tempat yang baru saya kunjungi selalu menorehkan pengalaman yang sangat berarti bagi saya.

Sekarang di kalangan fotografer, terutama fotografer dalam tahap hobi. NatGeo bukan lagi dianggap sekedar sebagai sebuah media, melainkan sebagai salah satu citra-citra sebagai fotografer tangguh dan petualang, misalnya. Terbukti, banyak bermunculan kaos, jaket, tas dan berbagai bentuk lainnya yang mencomot/ngebajak logo NatGeo? pendapat kamu tentang fenomena ini apa?  
Kalau dari sudut pembajakan ya menyedihkan. Saya tau pembajaknya masih muda-muda dan sangat berbakat (bakat design & marketing tentunya). Cuma dari kacamata saya kurang tepat ejawantahnya. Dengan berat hati saya merasa fenomena itu seperti orang muda membajak orang muda, bukan cuma barang dan harga dirinya yang dibajak, tapi mental. Mental di masa pencarian jatidiri. Aktualisasi diri eksternal seperti itu jadi artifisial. 
Nge-fans itu boleh aja, cuma bukan berarti jadi groupies (in my honest opinion) yang nerabas aturan. Seperti muslim yang harus yakin kehalalan apa yang dimakannya, sebaiknya kita juga tau "keaslian" apa yang kita pakai. Setidaknya itu akan merujuk ke kecerdasan kita, bepikir panjang nggak sih, perlu nggak sih. 
Yang lebih menyedihkan lagi saat prosesi Puja Waisak lalu banyak "orang membawa kamera" yang mengaku "meliput" prosesi tersebut dengan adab yang kurang baik, baik kepada para umat yang sedang beribadah dan juga kepada orang lain yang jelas pekerjaannya meliput event tersebut. Fotografer itu dikenal dari karyanya dan visinya, bukan kaos, topi, tas, ataupun kameranya.

*plok plok plok, diplomatis sekali. Ayo anak muda, mari kita stop mencari dan mempercayakan citra dan jati diri pada sebuah brand, apalagi kalau kita tidak tahu secara mendalam brand itu. Percayalah dengan kemampuan diri kita. Lanjut, Fiz. Sebenernya syarat-syarat apa sih yang diperlukan untuk menjadi fotografer NatGeo?
Waduh, syarat-syaratnya apa ya? Karena NGI publishernya Kompas Gramedia Group ya syarat administrasinya tidak jauh berbeda dengan perusahaan lainnya di Indonesia. Kalau secara profesi ya juga sama dengan fotografer lainnya, rajin motret, portfolio yang personal dan jelas, attitude yang baik dan profesional tentunya, karena fotografer nggak kerja sendiri, tapi dengan banyak pihak.

Orangutan

Hombo Batu

Nah, sekarang tentang kefotografianmu, apa yang membuatmu tertarik dengan fotografi? Kapan mulai nyemplung?  
Fotografi saya bermula 4 tahun lalu di unit kegiatan mahasiswa, FFC (klub fotografi Fisip) di kampus saya, Komunikasi, Universitas 11 Maret. Banyak alumni kampus yang tergabung di klub itu yang kini bekerja sebagai fotojurnalis, baik di media besar nasional maupun internasional. Saya banyak belajar di sana, berproses dan membangun network bersama teman-teman lain. 
Kenapa suka fotografi? Aahh siapa yang tidak suka haha. Saya menikmati memotret perjalanan dan dokumenter, sesuatu yang membuat otak, hati, dan hampir semua bagian tubuh saya bersatu padu menghasilkan sesuatu yang banyak orang suka.

Di luar pekerjaan, kehidupan fotografimu bagaimana sih? Fotografi macam apa yang kamu geluti? 
Di luar pekerjaan, fotografi saya nggak jauh berbeda, saya memotret keluarga dan teman-teman saya terus di-share di social media hehe. Setiap merasa jenuh saya menyempatkan diri berjalan sendiri memotret sesuka saya dan berbagi senyum kepada orang yang saya temui di jalan.

Sebagai fotografer Natgeo kan pasti akrab dengan fotografi travel dan documenter nih.  share juga dong tentang hal-hal apa yang perlu diperhatikan ketika memotret travel dan documentary
Memotret travel dan dokumenter sudah banyaaaaak sekali materinya di buku dan internet. Kalau boleh saya menambahkan sedikit, memotretlah dengan rasa dan keyakinan. Kedua hal itu didapat dari mengerti apa yang kita foto. Penguasaan teknis dan materi foto membuat kita berkarya dengan lebih profesional.

Siapa fotografer favoritmu? Ceritakan juga hal apa yang menyebabkanmu suka sama dia. 
Yang lokal aja yah, saya suka melihat indahnya visualisasi dari foto karya Yuniadhi Agung dan Fanny Octavianus, saya juga belajar enterpreneurship fotografi dari Feri latief, Yudhi Sukma Wijaya, Deniek Sukarya, kalo hati fotografi dari Oscar Motuloh, Reynold Sumayku, dan Dwi Oblo. Mereka semua fotografer yang saya hormati

Mari di googling nama-nama fotografer yang disebut. Siapa tahu bisa jadi inspirasi kita juga. 
Terus, punya projek personal yang sedang atau akan dikerjakan? Coba diceritakeun?
Ada yang saya kerjakan tapi belum bisa disebut personal project juga sih, karena belum semua elemen dari personal project saya penuhi. Saya suka memotret pasar tradisional, fashion, dan colors.

Sawer
Sebuah Esensi

Sejauh ini, selain bisa kerja di Natgeo, pencapaian/prestasi apa yang sudah kamu dapatkan dan kamu banggakan?
Pertanyaan paling susah. Pencapaian yang ingin saya capai lebih ke kebutuhan perasaan saya bukan portofolio karir. Saya bersyukur dan merasa beruntung bisa berada di titik ini sekarang (dalam segala hal bukan hanya fotografi). Mungkin yang bisa saya rasa sebagai pencapaian ialah perasaan bersyukur dan konsisten atas apa yang telah dicapai dan fokus untuk mau terus mencapai hal lain. Konsisten dan fokus dalam fotografi itu mimpi yang realistis. Selain itu saya berharap fotografi saya bisa berguna bagi orang lain.

Terakhir, beri pesan dong untuk kawan-kawan pembaca!
Pesan? Waduh saya masih terlalu hijau dan sederhana untuk bisa berpesan. 

Yaudah kalau nggak mau beri pesan, beri prima aja (Barry Prima, -red). Pilih mana?! 1..2..3.. Ya, waktu habis, kamu harus beri pesan!
Selayaknya pekerjaan sebagai pewarta foto, pesan yang saya sampaikan dalam karya-karya saya sejatinya merupakan fakta nyata dari apa yang ada di bumi dan dunia ini. Saya hanya memilihkan dan membingkainya menjadi lebih mengena untuk diresapi nilai-nilainya. Kalau boleh sedikit share, semenjak saya berada di tengah keluarga besar NGI, pelajaran penting yang saya dapat ialah saya menjadi lebih sadar terhadap kepentingan hidup saya di tengah kepentingan pelestarian alam semesta ini. Saya yang datang dari kampung dan merantau di megapolitan Jakarta merasa berada di keluarga yang tepat (NGI). Saya beradaptasi menjadi lebih dewasa dan membuka cakrawala pengetahuan saya dengan mencoba seselaras mungkin dengan alam semesta ini. Saya rasa bentuk manusia modern ke depan ialah manusia-manusia yang mau hidup lebih "hijau" dan sustainable. Generasi muda seperti kita inilah yang akan menentukan masa depan dunia dalam seabad ke depanlah setidaknya.

11 komentar:

  1. widih baru 23 ternyata, uhuy, salute...

    BalasHapus
  2. salut salut salut!
    saya jadi makin semangat belajar memotret

    BalasHapus
  3. post blogwalker
    kunjungi blogku ya
    http://herdinbisnis.com

    BalasHapus
  4. salut buat mas Hamid... ups (hafidz...)

    ikut seneng, ternyata saya satu almamater dan satu tanah kelahiran... sukses terus mas...:)

    BalasHapus
  5. senang moto,bukan tukang foto
    itu hal pembeda..
    W.P.F.R (WORK PRAY FUN ROCK N ROOL)

    BalasHapus
  6. Makin semangat nih, asli. thanks kak ilmunya hehe :D

    BalasHapus