Tampilkan postingan dengan label interview. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label interview. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 November 2011

[Patut diberi Salut] Evelyn Pritt: Seimbang Antara Komersil dan Personal Project


Biasanya, kebanyakan fotografer yang sudah berada di ranah komersil merasa nyaman dengan keberadaannya. Project yang mereka kerjakan hanyalah project pesanan semua. Tapi, ketika kami melakukan observasi kecil-kecilan tentang  Evelyn Pritt seketika stigma itu runtuh. Pasalnya, selain masih aktif melakukan pemotretan yang komersil, wanita fotografer yang akrab disapa Epel ini masih getol membuat proyek personal.

Pameran-pameran skala nasional pun beberapa kali memajang karya-karyanya. Di antaranya yang kami sempat kunjungi adalah pameran “Mata Perempuan, Seharusnya..” yang dikurasi oleh fotografer senior Erik Prasetya dan yang paling gress adalah pameran “Beyond Photography” sebuah pameran yang mencoba mendefinisikan ulang makna serta wujud fotografi di Indonesia sekarang, nama Jim Sipangkat dan Asmudjo yang menjadi kuratornya.

Ketertarikannya dengan fotografi komersial dimulai ketika ia bekerja di sebuah agenci iklan, saat itu ia menjabat sebagai seorang web desainer. Mengenai fotografi komersilnya, lulusan Desain Komunikasi Visual ini sering mengerjakan pemotretan untuk produk dan model (fashion).  Dalam sesi wawancara via email ini Epel berbagi cerita dari mulai proses kreatif dalam pemotretan hingga keterlibatan wanita di dunia fotografi.


Minggu, 23 Oktober 2011

[Patut Diberi Salut] Anissa Utami Seminar : Panjatkan Syukur Melalui Foto


Bagi Anissa Utami Seminar, fotografi adalah hal yang menyenangkan, tidak rumit, dan menjadi medium alternatif penerjemah pesan. Kegemarannya jalan-jalan sejak kecil membawa gadis yang akrab dipanggil Ayie ini selalu ingin mendokumentasikan keelokan sejauh mata memandang.

Lahir di Kanada dan mengenal fotografi berawal dari sekedar iseng belaka. Bagi Ayie, melukis cahaya melalui viewfinder juga dapat diartikan sebagai bentuk rasa syukur kepada yang Maha Pencipta atas anugerah keindahan alam dan segala isinya.

Di sela-sela kesibukannya menggeluti semester akhir di Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran. MALU berkesempatan mengisi senggang waktu berbincang-bincang dengannya tentang filosofinya memotret dan kegemarannya akan travel photography



Selasa, 18 Oktober 2011

[Patut Diberi Salut] Hafidz Novalsyah: Membingkai Dunia Dengan Rasa dan Keyakinan


Awalnya, saya ingin mencantumkan tempat ia bekerja di bagian judul untuk menunjukkan betapa dia hebat. Namun, setelah saya membaca jawaban-jawaban serta foto-fotonya, ternyata saya salah, dia memang patut diberi salut apa adanya. Tanpa harus  perlu disebut profesinya sebagai fotografer majalah National Geographic Indonesia sekali pun.

Dia adalah Hafidz Novalsyah, pemuda yang seumuran sama saya. Sayang, kalian tidak begitu tahu berapa umur saya, jadi saya perlu memberi tahu kalau saya dan Hafiz sama-sama berumur 23. Kita juga sama-sama kuliah Komunikasi, sama-sama pecinta fotografi, bedanya Hafiz lebih menggiati dan menjadikannya sebagai profesi, pun tempat kerjanya dianggap mumpuni bagi para pegiat fotografi lainnya. Tapi ada yang satu hal pasti yang membedakan saya dan Hafiz, saya sudah lulus kuliah. Haha. *becanda Fidz.

Menyaksikan foto-foto dokumenter Hafiz itu sangat menarik. Eksplorasi angel dan momennya membuat foto menjadi bernyawa karena bercerita. Kedalaman observasi pun selalu dilakukan  Hafidz ketika akan melakukan pemotretan ke suatu tempat atau acara. Selain itu, rasa dan keyakinan menjadi dua jurus utamanya dalam mengamalkan fotografi dokumenter.

Dari pada ngalor ngidul mending langsung aja kita simak siaran langsung dan bisa diulang-ulang semaumu, hasil wawancara saya dengan bung Hafidz ini. Banyak cerita inspiratif dan ungkapan-ungkapan diplomatis yang patut kita catat dan renungi.

Mari…

Gang Ampiun

Rabu, 28 September 2011

[Patut Diberi Salut] Rian Afriadi: Dari Empty Snapshot Jadi Narrative Documentary Photos

Jika ditanya siapakah fotografer lokal favorit, maka saya akan menyebutkan nama Rian Afriadi sebagai salah satunya. Sejak saya pertama mengenalnya melalui forum berinisial FN itu di pertengahan 2009, foto-foto Rian semakin hari semakin memuaskan mata saya. Jika diawal-awal foto-fotonya hanya sebatas apa yang Rian sendiri menyebutnya sebagai “empty snapshot”, kini saya selalu ditawarkan foto-foto snapshot kaya akan interaksi. Cerdas!