Senin, 23 April 2012

Bali Top 5 Beaches Versi MemangTerlalu

Foto dan Teks Oleh: Allan Rinaldi

   Yihaaaaaa, ombak, pasir putih, sengatan matahari, dan turis mancanegara  menjadi ciri khas ketika menginjakkan kaki di Bali. Kebetulan banget nih salah satu kru MALU (Allan) sempet berada di Bali selama 2 bulan terakhir, jadi bisa nyicipin pantai-pantai apik nan eksotis khas pulau dewata.

   Bali yang termasuk dalam zona waktu Indonesia Bagian Tengah ini memiliki berbagai macam hal yang membuat banyak orang berdatangan. Sebut saja hamparan sawah khas Tegalalang, dunia malam khas legian, ketentraman hidup khas Ubud, dan yang pastinya adalah pantai-pantai yang berombak besar sepanjang garis pantai dari timur sampai barat Bali.

  Nah MALU pengen share sedikit nih tentang mana-mana aja sih pantai yang wajib dikunjungi kalau temen seperMALUan dateng ke Bali. Yuk langsung ayok kita kemon liat aja nih list tempatnya:


1. Pantai Suluban (Blue Point)
    Langsung saja urutan pertama ditempati oleh Pantai Suluban, atau biasa disebut juga Blue Point. Banyak orang menyebut Pantai Blue Point karena disana memang ada Hotel Blue Point yang letaknya persis dipinggir karang.
     Untuk mencapai pantai ini kita harus menuruni karang-karang, karena kita parkirnya kan diatas karang tuh, jadinya kalau mau ke pantai harus turun karang dulu dongs, ya kan ya kan. Dan uniknya lagi, setelah turun karang, kita harus melewati goa yang nantinya tersambung ke pantai. Nyampe sana pasti kalian langsung terkagum dengan keindahannya deh, karena kita bisa berenang diantara karang besar yang ombaknya tenang, jadi jangan khawatir terseret arus ya. 


 

Selasa, 20 Desember 2011

Mengintip Tiap Sudut Surabaya


"Surabaya sering diasumsikan sebagai kota perdagangan dan pelabuhan yang hanya bagus untuk transit saja. Namun kota ini memiliki sejarah dan perpaduan budaya yang kompleks dan menawan hati"


Itulah paparan yang muncul ketika kami melangkah masuk ke Galeri CCCL Jl. Darmokali No. 10, yang bertempat di Kota Pahlawan, yoits di Surabaya fren.  Tercatat total 7 orang Fotografer dan seorang Videografer yang diwadahi oleh Matanesia Community berkolaborasi dengan Marie Jo Stevens (Etnofotografer Prancis) dan Agus Suparta (Freelance Fotografer) untuk menggelar pameran ini.




Jumat, 16 Desember 2011

Ayo Lahap Buku-Buku Fotografi Dunia di Goethe Institute

Seringkah kamu merasa gusar karena buku kumpulan karya fotografi itu selalu mahal harganya. Pun di toko-toko buku jarang sekali ada buku foto yang yang dibuka segelnya. Kalau pun ada kita hanya bisa membaca nya sebentar aja. Lebih dari 10 menit biasanya sih rasa malu datang menghampiri. Apalagi kalau ada petugas yang terlihat sedang mantau.
P1030632_800x533
Nah, Goethe Institute memberi jawaban keresahan kita akan akses ke buku-buku kumpulan karya fotografi itu. Melalui acara tahunannya yang sudah digelar sejak 2006, Deutscher Fotobuchpreis (Penghargaan Buku Foto Terbaik Jerman), yang digelar dari 10- 23 Desember 2011, kita dipersilahkan untuk membaca lebih dari 100 judul buku fotografi terbaik terbitan Jerman sepuasnya.

Kamis, 08 Desember 2011

[Patut diberi Salut] Sandi Jaya Saputra: Nyentrik tapi Fantastic.

Bagi kalian warga Bandung yang doyan berkesenian dan aktif bergaul pasti nama Sandi Jaya Saputra sudah nggak asing, apalagi 19 November lalu namanya mejeng di bawah tajuk sebuah pameran tunggal Pause - Urban Decay yang digelar di Common Room. Kalau masih belum ngeh juga, mungkin nama panggilannya akan lebih familiar di kuping. Ya dia lah Usenk yang pake K bukan pake G. dan yeah-nya lagi, di umurnya yang masih 26 tahun dia udah pameran, tunggal pula. Oke Senk, cukup tau aja, kalau ternyata elu bukan sekedar nyentrik bin ekstentik tapi juga fantastic. Salut

Konsistensinya untuk terus berfotografi patut kita beri tepuk tangan, fren. Pertama, doi getol banget untuk mengerjakan proyek-proyek personalnya dan hasilnya selalu memukau. Ketika ditanya soal kesehariannya ia menobatkan diri sebagai fotografer lepas, assignment yang diterimanya pun nggak tanggung-tanggung. sejumlah program LSM ia dokumentasikan. Menariknya lagi, bukan cuma ihwal teknis aja yang matang dipelajari, tetapi juga teori dan sejarah fotografi. Nggak salah kalau ia diberi kesempatan untuk mengajar fotografi di kampus (yang gedungnya mirip kelurahan) Fikom, Unpad.

Oke, merasa masih kurang bukti untuk menyatakan salut kepada Usenk? Mari kita simak hasil obrol-obrol MALU dengannya.

"Pasar Baru"
Pause - Urban Decay

Rabu, 07 Desember 2011

iPhoneography: Era Baru Fotografi Digital

“We shape our tools and thereafter our tools shape us,” begitulah tulis Marshall McLuhan dalam buku Understanding The Media yang pertama kali terbit pada 1964. Manusia menciptakan suatu benda, lalu benda itu berbalik membentuk budaya kita. iPhone pertama kali rilis pada 29 Juni 2007. Hingga tulisan ini dibuat, iPhone sudah sampai pada generasi keempat. Berbagai perangkat intelejen (iDevice) serupa pun dikembangkan: iPod dan iPad. Sejak kemunculannya itu pelan-pelan iDevice menciptakan fenomena baru dalam fotografi. Istilah fotografi pun menjadi cair. Pada iDevice, fitur kamera mini canggih serta berbagai software editing foto memunculkan tren iPhoneography, sebuah era baru fotografi digital pun dimulai.

Kamera mulai ditanamkan di iPhone sejak iPhone 3G dengan resolusi 2 megapixel. Lalu di iPhone 3GS fitur kameranya mulai meningkat menjadi 3,2 megapixel. Kemampuan merekam video pun sudah ditambahkan. Jika disandingkan dengan kamera digital konvesional, hasil foto iPhone 3GS nyaris sama. Baru di iPhone 4G kameranya sudah 5 megapixel. Sejalan dengan iPhone, teknologi kamera pada iPod dan iPad pun dikembangkan. Hasil foto yang lebih tajam pun bisa didapatkan. Sensasi baru dalam berfotografi pun muncul, kita hanya perlu mencolek layar untuk mengambil foto. 

Minggu, 04 Desember 2011

Santana, Katy Perry, David 'Naif', The Brandals Kumpul di Cikini


Ya, kalian nggak salah baca judulnya kok. Dan kami nggak bermaksud untuk menipu kalian. Karena hal ini benar adanya. Dave Grohl, vokalisnya Foo Fighter, Santana, James Hetfield (Metalica) Katy Perry, David 'Naif', The Brandals, Paramore, lagi hadir di Cikini pada gelaran Rockin Frame, pameran foto panggung yang digagas oleh StageID, komunitas pecinta fotografi pannggung. 


Selasa, 22 November 2011

BILL CUNNINGHAM New York: Kisah Loyalitas Seorang Fotografer Fesyen ‘Jalanan’

Menyimak kisah seseorang mengerjakan hal-hal yang sesuai passion dan mimpinya memang selalu mengharukan, apalagi kalau hal itu dilakukan dengan loyalitas tinggi dan keceriaan. Begitulah kira-kira Bill Cunningham dengan fotografi fesyen yang sudah ia geluti selama berpuluh-puluh tahun.

Film ini dibuka dengan adegan Bill Cunningham menggowes sepedanya menyusuri trotoar jalan. Tubuh kurusnya sedikit terlihat tebal karena jaket biru yang selalu ia kenakan. Seketika  ia pun berhenti lalu merapatkan sepeda ke tiang lampu jalan dan menguncinya. Sejurus kemudian ia sudah siap dengan Nikon FM-nya, lautan manusia yang sedang menyebrang jalan pun ia selami. Matanya selalu awas menelusuri busana tiap pejalan kaki, dari kepala hingga kaki. Tiap kali ada yang menarik perhatiannya ia langsung menghampiri, lalu dengan lincahnya memotret. Ekspresi ceria tak pernah lepas dari wajah tirus penuh keriputnya persis seperti seorang anak kecil yang kegirangan.     
   
“The best fashion show is on the street, always has been and always will be,” itulah kalimat pertama yang akan kita dengar dari mulut Bill dalam film ini.

Jumat, 11 November 2011

[Patut diberi Salut] Evelyn Pritt: Seimbang Antara Komersil dan Personal Project


Biasanya, kebanyakan fotografer yang sudah berada di ranah komersil merasa nyaman dengan keberadaannya. Project yang mereka kerjakan hanyalah project pesanan semua. Tapi, ketika kami melakukan observasi kecil-kecilan tentang  Evelyn Pritt seketika stigma itu runtuh. Pasalnya, selain masih aktif melakukan pemotretan yang komersil, wanita fotografer yang akrab disapa Epel ini masih getol membuat proyek personal.

Pameran-pameran skala nasional pun beberapa kali memajang karya-karyanya. Di antaranya yang kami sempat kunjungi adalah pameran “Mata Perempuan, Seharusnya..” yang dikurasi oleh fotografer senior Erik Prasetya dan yang paling gress adalah pameran “Beyond Photography” sebuah pameran yang mencoba mendefinisikan ulang makna serta wujud fotografi di Indonesia sekarang, nama Jim Sipangkat dan Asmudjo yang menjadi kuratornya.

Ketertarikannya dengan fotografi komersial dimulai ketika ia bekerja di sebuah agenci iklan, saat itu ia menjabat sebagai seorang web desainer. Mengenai fotografi komersilnya, lulusan Desain Komunikasi Visual ini sering mengerjakan pemotretan untuk produk dan model (fashion).  Dalam sesi wawancara via email ini Epel berbagi cerita dari mulai proses kreatif dalam pemotretan hingga keterlibatan wanita di dunia fotografi.


Minggu, 23 Oktober 2011

[Patut Diberi Salut] Anissa Utami Seminar : Panjatkan Syukur Melalui Foto


Bagi Anissa Utami Seminar, fotografi adalah hal yang menyenangkan, tidak rumit, dan menjadi medium alternatif penerjemah pesan. Kegemarannya jalan-jalan sejak kecil membawa gadis yang akrab dipanggil Ayie ini selalu ingin mendokumentasikan keelokan sejauh mata memandang.

Lahir di Kanada dan mengenal fotografi berawal dari sekedar iseng belaka. Bagi Ayie, melukis cahaya melalui viewfinder juga dapat diartikan sebagai bentuk rasa syukur kepada yang Maha Pencipta atas anugerah keindahan alam dan segala isinya.

Di sela-sela kesibukannya menggeluti semester akhir di Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran. MALU berkesempatan mengisi senggang waktu berbincang-bincang dengannya tentang filosofinya memotret dan kegemarannya akan travel photography



Selasa, 18 Oktober 2011

[Patut Diberi Salut] Hafidz Novalsyah: Membingkai Dunia Dengan Rasa dan Keyakinan


Awalnya, saya ingin mencantumkan tempat ia bekerja di bagian judul untuk menunjukkan betapa dia hebat. Namun, setelah saya membaca jawaban-jawaban serta foto-fotonya, ternyata saya salah, dia memang patut diberi salut apa adanya. Tanpa harus  perlu disebut profesinya sebagai fotografer majalah National Geographic Indonesia sekali pun.

Dia adalah Hafidz Novalsyah, pemuda yang seumuran sama saya. Sayang, kalian tidak begitu tahu berapa umur saya, jadi saya perlu memberi tahu kalau saya dan Hafiz sama-sama berumur 23. Kita juga sama-sama kuliah Komunikasi, sama-sama pecinta fotografi, bedanya Hafiz lebih menggiati dan menjadikannya sebagai profesi, pun tempat kerjanya dianggap mumpuni bagi para pegiat fotografi lainnya. Tapi ada yang satu hal pasti yang membedakan saya dan Hafiz, saya sudah lulus kuliah. Haha. *becanda Fidz.

Menyaksikan foto-foto dokumenter Hafiz itu sangat menarik. Eksplorasi angel dan momennya membuat foto menjadi bernyawa karena bercerita. Kedalaman observasi pun selalu dilakukan  Hafidz ketika akan melakukan pemotretan ke suatu tempat atau acara. Selain itu, rasa dan keyakinan menjadi dua jurus utamanya dalam mengamalkan fotografi dokumenter.

Dari pada ngalor ngidul mending langsung aja kita simak siaran langsung dan bisa diulang-ulang semaumu, hasil wawancara saya dengan bung Hafidz ini. Banyak cerita inspiratif dan ungkapan-ungkapan diplomatis yang patut kita catat dan renungi.

Mari…

Gang Ampiun

Senin, 17 Oktober 2011

Workshop dan Pameran Fotografi "PANCASILA HARGA MATI" (GRATIS namun TERBATAS))





Sebuah workshop yang menarik sekaligus menantang nih kawan. Galerin Fotografi Jurnalistik Antara menggelar sebuah workshop fotografi gratis untuk kita para anak muda. GFJA bekerja sama dengan Grafisosial mengajak kita untuk memberikan opini kita mengenai Pancasila dalam bentuk karyafotografi..

Workshop yang akan digelar pada November 2011 ini dibatesin hanya untuk 15 orang dengan batas usia 15-25 tahun. Jadi untuk bisa ikut workshop ini, kita harus melewati proses seleksi dulu. Nantinya, kita bakal dikasih materi tentang fotografi serta pemahaman tentang Pancasila. Setelah itu, kita ditantang untuk bikin karya fotografi yang berkaitan dengan pancasila.

. Tertarik untuk coba? silahkan kirim hal-hal sebagai berikut:
1. CV, No. Kontak, dan portofolio berupa foto-foto bertema sosial.

2. Materi portofolio dalam bentuk pdf/jpf. maksimal 2 Mb dikirim ke alama email sekertariat@grafisosial.org cc: kurnia@grafisosial.org. Subject: Workshop Fotografi
3. Cerita singkat/opini mengenai pancasila (minimal 2 paragraf).


Deadline penerimaan lamaran: 31 Oktober 2011.
Pengumuman hasil seleksi peserta workshop:  3 November 2011.




Informasi lebih lanjut: Kurnia Setiawan (0816 1844751)
www.grafisosial.org



info ini disadur dari: sini

Rabu, 12 Oktober 2011

GajiPertama Award akan diberikan kepadaaa.... (lanjutan)


Pengumunan Pemenang Kategori Menulis Apresiasi Foto

Pengantar Juri

Sebuah foto bernilai seribu kata. Saya yakin kita semua pernah atau bahkan sering mendengarnya. Terlepas dari persoalan kita setuju atau tidak dengan ungkapan itu, ia menyiratkan bahwa foto, seperti halnya kata-kata, adalah ‘teks’ yang bisa dibaca. Namun sayangnya, walaupun fotografi sendiri sudah sangat merasuk ke dalam kehidupan sehari-hari kebanyakan orang, di Indonesia tulisan-tulisan tentang pembacaan fotografi masihlah jarang ditemukan. Kalaupun ada, seringkali tulisan-tulisan tersebut hanya dibuat oleh kalangan akademis (kritikus/kurator/dll.) dengan menggunakan bahasa yang sedemikian rumit, yang alih-alih mencerahkan, malah membingungkan. Saya tidak akan menyalahkan mereka karena saya yakin tulisan mereka memiliki fungsinya sendiri. Namun yang saya khawatirkan adalah ketika tulisan mengenai fotografi hanya didominasi tulisan ‘berat’ seperti itu, peminat fotografi di Indonesia akan semakin menjauhi tulisan-tulisan fotografi karena berpikir mereka begitu sulit untuk dipahami. Akhirnya ketika berbicara fotografi kita lalu hanya berkutat pada masalah pembuatan foto saja.

Dengan latar belakang demikian, kompetisi apresiasi foto yang diadakan Memang Terlalu buat saya adalah langkah konkrit yang sangat bermanfaat dan memang diperlukan. Saya masih percaya bahwa pesan kritis tetap bisa disampaikan dengan bahasa populer yang bisa dimengerti tiap orang. Dalam menulis apresiasi foto tidak ada benar/salah dalam posisi yang diambil (suka/tidak suka), maupun aspek fotografi yang dibahas (teknis/non-teknis) Tulisan yang saya pilih sebagai pemenang kompetisi pun bukanlah karena ia respon yang ‘benar’ terhadap foto yang diapresiasi, melainkan karena menurut saya si penulis bisa mengkomunikasikan dengan baik apa yang ia rasa dan dapatkan dari karya foto yang dia apresiasi, karena menuangkan pikiran ke dalam bentuk tulisan bukanlah sesuatu yang mudah.

Pembacaan sebuah foto oleh seorang pelihatnya bisa saja tidak sama dengan ide yang ada di benak si fotografer ketika menghasilkan karyanya. Yang muncul di kepala dua orang yang melihat foto yang sama pun bisa berbeda. Sah-sah saja. Yang menarik lalu adalah ketika ide-ide yang berbeda dari karya yang sama itu bisa kita sandingkan. Perbedaan memperkaya tafsir, dan memahami sesuatu dari berbagai sudut pandang tentunya akan membantu fotografer sendiri dalam berkarya. Dengan adanya kompetisi seperti ini mudah-mudahan teman-teman semakin terdorong dan bisa memberanikan diri untuk menuangkan ide pikirannya tentang fotografi.


—Kurniadi Widodo

Pemenangnya adalah 

Suryo Gumilar
Berhak atas Buku Novel Grafis SANG FOTOGRAFER dan LEATHER STRAP 

Apresiasi Foto "Untitled" (Arif Furqan) oleh Suryo Gumilar
Apresiasi Foto "Untitled" (Arif Furqan) oleh Suryo Gumilar

Foto ini diambil oleh sdr. Arif Furqan dan diunggah di fotografer.net dengan judul #FNstreet. Di sanalah untuk pertama kali saya melihat foto yang saya anggap mencengangkan ini. Foto ini tetap mencengangkan bahkan setelah saya melihatnya berulang kali.
Mari kita bedah foto ini bersama-sama. Foto, seperti layaknya medium penduplikasi realita, punya dua makna, yakni tersurat dan tersirat. Makna tersurat adalah elemen atau objek apa saja yang kelihatan pada gambar.
Pada foto di atas, kita bisa melihat teralis besi yang biasanya terdapat di pertokoan. Lalu di belakangnya, sebuah gambar atau potret. Foto dalam foto itu sendiri, sudah menarik buat saya. Dalam foto di balik teralis, tampak gambar perempuan berkerudung. Di belakang sang perempuan terlihat sebuah bangunan seperti menara.
Dari segi estetika, elemen dan komposisinya begitu sederhana. Penempatan satu elemen yang menjadi 'tokoh utama cerita' yaitu si perempuan berkerudung mengikuti kaidah 'Rule of thirds'. Ini turut mendukung makna kedua, yaitu makna tersirat yang mau tak mau menyeruak dari foto ini.
Lalu apa makna yang tersirat dari foto ini. Makna yang bersifat kultural atau historis buat saya, adalah tentang isu agama dan kaitannya dengan perempuan sebagai subjek (atau objek lebih tepatnya?)
Saat membahas makna tersurat, saya telah menyebutkan elemen-elemen dalam foto, dengan urutan dari depan ke belakang. Dalam makna tersirat, saya coba membahas elemen-elemennya dari belakang ke depan.
Setidaknya ada dua makna tersirat yang bisa saya lihat dalam foto ini. Yang pertama, dari menara pada latar belakang foto perempuan, mirip dengan menara Masjidil Haram di Mekkah. Kota pusat agama Islam. Kerudung,mensimbolkan perintah agama. Disini perintah tentu saja tidak terbatas pada perintah berkerudung tapi semua perintah atau aturan yang ditujukan untuk perempuan sebagai tokoh didalam foto.
Dan “punctum” atau elemen  yang menusuk pikiran saya dalam makna tersirat foto ini justru berada di bagian depan, yakni teralis besi. Benda ini menyimbolkan kungkungan, sebuah kerangkeng bagi sang perempuan.
Agama, sejatinya adalah petunjuk untuk membimbing umatnya dalam koridor kebaikan, kebaikan yang terkodefikasi menurut standard agama yang bersangkutan. Agama juga menuntut umatnya untuk taat, kadang tanpa tanya. Celakanya, ketaatan tanpa tanya ini sering dimanfaatkan untuk tujuan politis. Kaitannya dengan perempuan dalam masyarakat patriarkal, kaum prialah yang memegang kendali. Kerangkeng ini menyimbolkan masyarakat ‘kebapakan’ tersebut dan interpretasi agama oleh 'penguasa' untuk 'mengendalikan' perempuan.
Adalah benar bahwa perintah agama mengalami banyak interpretasi. Contohnya soal kerudung atau jilbab. Dari Kordoba, Afrika Utara, Jazirah Mesopotamia, Hindustan, hingga Asia, aplikasi kerudung punya banyak varian. Dari shayla yang relatif longgar (seperti yang dipakai perempuan dalam gambar) hingga Niqab atau Burka yang tertutup. Namun interpretasi-interpretasi ini ditentukan oleh ulama-ulama yang mayoritas pria. Padahal ia  untuk kepentingan perempuan.
Disinilah 'otorisasi' teralis besi ditedengkan, tepat di muka sang perempuan. Kadang begitu keras bak besi sehingga pada negara atau tempat yang relatif ketat, perlu polisi susila yang mengatur perempuan bersikap.
Elemen-elemen foto yang kita bahas juga punya makna tersirat yang lain. Jika sebelumnya saya mengupasnya dari sisi interpretasi oleh pemimpin patriarkal, kali ini saya mencoba mengupas dari sisi perempuan sendiri.
Makna tersirat kedua yaitu simbolisasinya sebagai persepsi perempuan atas dirinya terhadap agama/perintah agama sebagai identitas, serta persepsi ‘pihak luar’. 
Di dunia muslim kontemporer, salah satu isu yang mencuat adalah isu penempatan dirinya (positioning) dalam komunitas modern. Kaum muslimin saat ini dihadapkan dengan persoalan pencarian identitas. Siapakah dirinya dan bagaimana ia menempatkan diri di dunia modern ini? Bagaimana ia memandang tradisi Islamnya dalam dunia modern dan global? Isu ini makin menguat setelah peristiwa 11 September, sehingga foto ini juga turut menguat konteksnya untuk saat ini.
Tarik-menarik yang menjadi pergulatan dalam dunia kontemporer, sebagai pembuka atas interpretasi kedua dalam pembahasan ini. Memang benar isu pergulatan identitas ini diderita baik oleh laki-laki dan perempuan. Namun penderitaan lebih dirasai oleh perempuan, sebab atribut Islam begitu tampak di mata orang lain (disebabkan kewajibannya untuk berkerudung). Sementara busana tidak terlalu mengganggu untuk kaum laki.
Kaum laki bisa secara klandestin berbaur dengan masyarakat majemuk tanpa ada penempelan atribut berarti, kecuali mereka memang mengutarakannya. Sementara perempuan yang ‘taat’, mengalami hal ini. Di sini, perempuan muslim dihadapkan pada tarik-menarik antara tradisi berhijab, dan posisinya di masyarakat, serta bagaimana ia menyikapi dirinya.
Gambar perempuan berkerudung mensimbolkan identitas, tradisi. Kita sebagai penikmat foto berperan sebagai mata dunia, si ‘pihak luar’ yang memandang perempuan muslim di balik teralis besi perbedaan persepsi dan tradisi.
Pada interpretasi makna tersirat kedua ini, teralis besi menyimbolkan ‘tumbukan budaya’, perbedaan cara pandang dan tradisi. Si perempuan adalah tesis, pembaca adalah antitesis dan teralis besi sebagai sintesis.
Mata perempuan yang melihat langsung ke kita yang menontonnya juga seolah balik bertanya, “bagaimana kamu wahai penonton, melihat diriku dan identitasku di balik ini?”
Jadi, pada interpretasi makna tersirat pertama, teralis besi menyimbolkan otorisasi terhadap diri sang subjek/tokoh. Sedangkan pada interpretasi kedua, teralis disimbolkan sebagai sebuah sintesa atau dialektika, tarik-menarik (kalau saya boleh menyebutnya begitu) antara tokoh, tradisi, dan ‘penonton’. Sementara untuk elemen-elemen lain punya makna tetap. Tampaknya, baru dua interpretasi saja yang saya temukan atas foto sdr Arif Furqon tersebut.

Juara Favorit:

Dicky Jiang 
Berhak atas Kaos MemangTerlalu

Apresiasi Foto "Untitled' (Kurniadi Widodo) oleh Dicky Juwono
Saya menemukan banyak hal menarik dari foto ini, walaupun secara sekilas foto ini tampak sederhana. Secara konten foto ini memiliki makna yg lebih daripada apa yg kita bisa lihat. Dengan mempergunakan 4 element objek (Kapal Laut, Manusia, Dermaga, dan horison). Dua orang manusia sedang memandang jauh ke arah laut, dimana jauh di-horison berjajar tiga buah kapal laut besar, Kita mendapatkan sebuah sensasi keheningan, serasa semua objek dalam foto ini berhenti untuk satu saat tertentu. Membuat kita berpikir apa yang sedang dipikirkan oleh dua manusia ini ? apakah mereka mempunyai "hubungan" tertentu dengan Kapal-kapal laut disana? Keberadaan dermaga di antara kedua objek manusia juga memberi nilai tambah terhadapap karya ini, selain memberi tambahan tekstur bagi keseluruhan gambar, keberadaan dermaga yang secara umum bisa membantu agar kita dapat lebih dekat kepada objek kapal tidak dipergunakan oleh kedua manusia itu. mengapa? apakah ada ke"enganan" dari diri mereka untuk lebih dekat? Dengan di-presentasikan secara Hitam & putih juga sangat memebantu dalam menambah "mood" dari karya ini. Hal lain yang menarik dan akan pertama-tama mendapat komentar dari orang yang melihat karya ini adalah: komposisi. Hal pertama yang akan muncul dalam pikiran kita adalah tampak karya ini "nanggung" , kurang simetris. Tetapi mengapa kita tetap menghabiskan beberapa detik dari waktu kita untuk mengikuti alur geometri yang terdapat pada karya ini. Karena tanpa disadari karya ini memiliki geometri yang hampir sempurna. Itulah alasan mengapa walaupun secara kasat mata komposisi pada karya ini tampak "nanggung" atau tidak simetris, kita tetap dapat merasakan suatu geometri yang dinamis. kenapa ? Jawabannya Golden ratio. Sulit menerangkan dengan kata-kata, karena itu saya meng-attach karya ini setelah saya tambahkan diagram golden ratio di atasnya (gambar B), dan yang lebih menarik lagi, karya ini tetap "masuk" walaupun diagram golden ratio nya dibalik (Gambar C) Golden ratio dalam sebuah karya foto ataupun karya visual lainnya bukanlah suatu hal yang "utama", tapi dengan adanya Golden ratio dalam sebuah karya, akan memberikan suatu nilai tambah yang terkadang tidak disadari oleh pelihat karya tersebut. terima kasih



karya-karya the best lainnya:

Apresiasi Foto "Adaw!!!" (Yusfan Wahyudi) oleh Yohanes Chandra
Apresiasi Foto "Adaw!!!" (Yusfan Wahyudi) oleh Yohanes Chandra Kepala adalah bagian tubuh yang paling terhormat dari seseorang; bagian teratas dari seseorang. Kecuali tukang cukur, untuk menyentuh kepala akan memerlukan ijin khusus dari sang empunya kepala. Kesalahan dalam memperlakukan kepala orang lain sering akan memicu keributan, karena harga diri seorang, ada di kepalanya. Sebaliknya, kaki adalah bagian paling rendah; bagian paling bawah. Bagian tubuh yang sering dianggap rendah dan kotor. Meskipun demikian kaki adalah bagian yang paling kuat, dan menopang seluruh tubuh. Sebuah tim merupakan kumpulan pribadi, masing-masing dengan karakter yang berbeda. Masing-masing memiliki sisi kuat dan sisi lemah. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Agar sebuah tim dapat bergerak sesuai dengan tujuannya, setiap anggotanya harus mengerti kemampuannya, dan mengerti peranannya di dalam tim tersebut. Sebagaimana kaki tidak dapat memimpin, demikian juga kepala tidaklah sanggup menopang seluruh tubuh. Dalam sebuah tim, bukan lagi ego pribadi yang menang, tetapi keberhasilan bersamalah yang paling penting. Ada pengorbanan-pengorbanan yang harus ditempuh untuk meraih cita-cita bersama. Orang yang berada paling bawah, justru adalah orang-orang yang paling kuat dalam tim tersebut. Jika orang yang lemah ada dibawah, hanya kehancuran yang akan menanti. Sebaliknya, yang kuat haruslah menopang yang lemah. Semakin tinggi tujuan yang ingin diraih tim, makin berat beban beban yang harus dia topang. Yang ringan dan cekatanlah yang akan menentukan laju perjalanan. Jika yang ada di bawah harus memikul beban berat badan rekan yang di atasnya, maka orang yang ada di atas harus memikul beban tanggung jawab atas pengorbanan rekan-rekan yang sedang menopangnya. Semakin tinggi ia berada, semakin banyak pula rekan yang sedang menopangnya saat itu, dan semakin besar pula tanggung jawab yang harus ia pikul. Di saat seseorang merayap naik, tidak jarang kakinya harus berpijak pada kepala rekan yang menopangnya. Apakah rekan yang menopang harus marah? Harus merasa harga dirinya terkoyak karena kepala yang diinjak-injak? Dan perlukah yang menginjak merasa puas karena dapat menginjak-injak kepala rekannya? Tidak perlu kita tanyakan seberapa kotor kaki itu, atau kapan terakhir kali orang yang dibawah mencuci rambutnya. Itu bukan lagi hal utama, itu bukan suatu tujuan. Keberhasilan dan tujuan bersama, harus mengalahkan ego masing-masing pribadi. Harga diri perseorangan digantikan dengan harga diri sebuah tim. Tujuan yang satu sebagai sebuah tim. Kemenangan bersama. Bukan siapa yang diatas dan siapa yang dibawah. Bukan siapa yang terinjak dan terluka, dan bukan pula siapa yang berada di puncak. Tetapi satu untuk semua, dan semua untuk satu.


Apresiasi Foto Dearly Departed (Debbie Tea) Oleh Agung Aribhowo
Apakah yang terbayang jika kita mulai melepaskan pijakan ini dan terbang. Dan mengapa memilih terbang? karena di atas sana adalah sebuah area yang luas. Saya teringat dengan seseorang illusionist di era 90an,yaitu David Copperfield Dengan salah satu trik sulapnya yang memukau yaitu melayang di udara atau terbang, Ia berhasil mewujudkan impian masa kecilnya untuk terbang, ia mampu menembus batas logika saat ia mulai melayang, walau dengan sebuah trik, sebuah trik yang jenius. Rasa untuk terbang melayang atau sensasi terbang memang sungguh luar biasa,cobalah sesaat mendongakan kepala dan melihat langit yang bersih, hiruplah udara sebanyak banyaknya dan khayalkanlah diri untuk terbang, merasakan hembusan angin, menyentuh awan, atau bersama kawanan burung yang bermigrasi, waw luar biasa! Terkadang saat pagi ketika mulai beraktifitas berangkat ke tempat kerja,saya sesekali melakukan hal tersebut di dalam angkutan, ya cukup membawa kelegaan dan refreshment,walau cuma khayalan semata. Mungkin suatu saat nanti kita bisa melayang,berpindah tempat dengan terbang,atau menggunakan baling-baling bamboo sebagai alat transportasi,ya satu saat nanti. Sensasi lain yang mungkin bisa di coba adalah dengan menaiki sepeda lalu membentangkan tangan sambil mendongak ke atas,ya saya terkadang mendapatkannya sebelum akhirnya saya harus mengendalikan sepeda kembali *berbahaya hehehe… Kala kita tebang kita bisa melihat pemandangan dari sudut lain,sebuah point of view yang baru,seperti burung elang yang bisa melihat mangsa dari kejauhan,atau seperti satelit yang mengitari bumi dan melihat segalanya dan akhirnya pandangan kita tebuka akan hal baru. Akhir-akhir ini saya sering mendengar kalimat “Zamrud Khatulistiwa” ya kalimat yang merepresentasikan Indonesia,menurut saya, yang terbayang di benak saya adalah : kita bisa melihat hamparan pulau hijau menyerupai zamrud,yang membentang di antara garis khatulistiwa dan sekali lagi itulah yang bisa kita lihat dari pandangan di atas,menakjubkan. Sebuah sudut pandang dari atas,sebuah nama yang indah yang kita bisa berikan ketika kita melihatnya dari sudut atas,juga tengoklah “Great Barrier Rief “ di Australia,atau susunan Tembok Cina.Entah mungkin puluhan kalimat bisa terucap jika kita bisa melihat dari sudut berbeda,dari sudut ketika kita terbang. Entah dengan sayap atau dengan mendorong angin, terbang memang membebaskan,terbang adalah sesuatu yang hampir tak terbatas namun terbang juga mengandung sebuah tanggung jawab,seperti halnya Superman,Gatotkaca,dan para superhero hasil imajinasi para komikus. Mereka diberi anugrah untuk bisa terbang,dan mereka memanfaatkan hal tersebut untuk menolong sesama. Dan gravitasi adalah salah satu hal yang mengingatkan kita untuk selalu menapak.


Apresiasi Foto "Untitled" (Bey Shouqi) oleh Ian Adiartha
Tangga-Tangga Menuju Kesuksessan Jalan tengah bukanlah berarti menang, kemarin engkau sekarang diriku. Melainkan turun kah setengah atau naik kah setengahnya pengharapan kita. Seumpama tangga adalah daya ungkit yang luar biasa agar kita mampu mencapai yang lebih baik dan lebih baik lagi. Orang yang lemah tangga-tangga kesuksesan merupakan tangga yang terjal dan berliku karena hidupnya hanya dipenuhi dengan keluh kesah dan beranggapan bahwa dunia ini tidak adil, kenapa hal itu terjadi pada dirinya sehingga dia menyebarkan kebencian agar orang lain menderita sebagaimana penderitaan yang dirasakannya. Naik dan turun inilah yang memungkinkan terbentangnya anak tangga yang berundak menuju tata cara kehidupan yang lebih tinggi. Tidak banyak orang yang berhasil mencapai tangga kesuksesan tanpa melewati pengorbanan dan kesulitan. Sebagian besar mereka yang berhasil mencapai tangga kesuksesan dalam kehidupan pernah mengalami berbagai tantangan, kesulitan dan pengorbanan. Namun mereka yang mencapai tangga kesuksesan ini tidak pernah menjadikan kesulitan, tantangan dan pengorbanan sebagai kegagalan. Mereka menjadikan kesulitan dan kegagalan sebagai bagian dari proses perjalanan suksesnya. Resepnya, antara lain, tidak mudah berputus asa, memiliki keberanian mengambil resiko yang terukur, berani mengambil tindakan. Kalau melakukan kegagalan, mereka berusaha memperbaikinya dan terus bekerja, hingga akhirnya mencapai kesuksesan. Tanpa efek naik turun, bukanlah tangga yang terbentuk melainkan benteng tinggi menjulang atau jurang yang dalam menjatuhkan kita dari karier kesuksessan itu. Difoto ini kita memahami dua Objek/model si A dan si B sebagai ilustrasi tangga kesuksessan itu yang berjuang untuk mencapai tujuan. Si A menghadapi tangga kesuksessan itu nampak tidak siap dalam tantangan kehidupan, hal ini tercermin bahwa tujuan yang hendak dicapai sudah hampir nampak. Namun karena kurang siap menghadapi sesuatu Dia nampak tidak mampu dan sudah kehabisan semangat untuk mencapai tujuan akhir. Si B memulai langkah secara bersamaan dengan si A tetapi nampaknya si B memulai sesuatu dengan persiapan dan perencanaan yang mantap untuk mencapai suatu tujuan walaupun sejumlah anak tangga yang harus ditempuh masih panjang dan berliku dia mampu melaluinya. Pada titik yang bersamaan nampaklah bahwa si A sudah tidak mampu untuk melanjutkan perjalanannya sedangkan si B masih tetap tegar. Melalui foto ini mengajak kita generasi muda untuk memahami tentang tangga- tangga kehidupan sebab perjuangan mencapai tujuan membutuhkan persiapan dan perencanaan, Permasalahan tidak menjadikan kita putus asa, Hadapi tantangan dengan penuh percaya diri. Dengan kata lain, semakin besar hidup yang anda inginkan, semakin tinggi tangga kesuksesan yang Anda lalui, maka dari itu semakin besar keberanian menghadapi resiko dan tantangan yang datang. Keberhasilanmu lulus hari ini ibarat keberhasilanmu melewati satu tangga dari belasan tangga kehidupan yang harus kau lalui.

'Gaji Pertama Award' Akan Diberikan Kepadaaa....


Kalau boleh mingjem kata2 syahrinsky atas keberlangsungan lomba ini dengan kalimat: Sesusomething very-very banget . Karena begitulah adanya. Ada sebuah perasaan senang yang abstrak, sulit didefinisikan. Bukan karena tidak jelas bentuknya. Melainkan karena kadarnya terlalu banyak. Melebihi muatan truk container ban 20!. 

Akhirnya tahun ini kami bisa menggelar sebuah lomba lagi. Walau dengan skala kecil tapi ternyata banyak peningkatan yang terjadi. Tahun kemarin jumlah pengirim karya ada 39 orang. Nah tahun ini mencapai angka 52+7. Ada 59 email yang masuk dengan subjek Lomba Foto Perjalanan dan Apresiasi Foto. Angka tersebut memang gak seterkenal km 97 di cipularang, tapi bagi kami yang masih begini-gini aja, angka segitu udah bikin seneng banget. Ternyata respon serta apresiasi kalian untuk kami masih besar. Dan yang paling penting, semangat kita, generasi muda, untuk berkarya sangat tinggi. Sedikit banyak, kami berharap hal kecil yang kita lakukan ini bisa membawa fotografi indonesia ke arah yang lebih seru lagi. Uhuy.  Padahal hadiah lomba ini nggak seberapa, nggak ada tai-tainya dibanding karya dan semangat kalian. Padahal prestasi ini nggak cukup kredibel untuk dicantumin di CV. Uh..

Akhir kata, MALU mengucapkan terima kasih lahir-batin untuk apresiasi dan konstribusi kalian semua, lalu kepada semua pihak yang membantu berjalannya acara ini, dan kepada kepada kepada lainnya..

Tetap setia bersama kami pren, kami ada karena kalian semua memangterlalu!

Tunggu event berikutnya ya, Salam MemangTerlalu!


dan ini dia yang terpilih

Juara 1:

Idham Rahmanarto – untitled 
Berhak untuk hadiah: Traveller Drybox 

Juara Favorit:

Bagus Galih Hastosa – Gunung Batur 
Berhak untuk hadiah: Kaos Fotografi Memangterlalu: Merk Kamera Bukan Agama Kreatifitas Yang Utama


dan inilah foto-foto terbaik dari yang paling the best lainnya



Dan inilah 10 foto terbaik dari yang paling the best:


Primus Fransiskus
Judul: PT. KAI (Pak, Tolong Kami Antarkan Impian)

Fathurrahman Hibban
Judul: Sahabat

Muhammad Kahfi
Judul : Saya Pulang

Juliardy Yuwono
untitled

Putri Fitria
untitled

Rangga Prayuga
Judul: KAWAH GUNUNG PAPANDAYAN

Ngusman
Perjalanan Spiritual

Muhammad IQbal
Judul: MENUJU BROMO!


...bersambung ke sini

Rabu, 28 September 2011

"Yesterday": A Mixed Media Photography Exhibition

"Yesterday" a Mixed Media x Photography exhibition by Kelas Pagi Jakarta

Oct 1st-7th
@ Guddang Gallery
(Jl. Panglima Polim V No. 38)


WORKSHOP (FREE)

2 Oktober 2011 (19.00 – 21.00 WIB)
Styling for Movie & TVC: Tips & Tricks (Klara Isabella - Film & TVC stylist)

3 Oktober 2011 (19.00 – 21.00 WIB)
Beauty in Fashion Photography (Nurulita)

4 Oktober 2011 (19.00 – 21.00 WIB)
Lomography (Satria Ramadhan - Lomonesia)

5 Oktober 2011 (19.00 – 21.00 WIB)
Movie Making: "Limited Budget, Why Not?" (Paul Agusta & Kyo Hayanto)
Screening film: "At the Very Bottom of Everything" (Director: Paul Agusta)

6 Oktober 2011 (19.00 – 21.00 WIB)
"Experimental Mixed Media: Mixed Your Life Up!"  (Yongkek)

twitter : @kelaspagijkt

[Patut Diberi Salut] Rian Afriadi: Dari Empty Snapshot Jadi Narrative Documentary Photos

Jika ditanya siapakah fotografer lokal favorit, maka saya akan menyebutkan nama Rian Afriadi sebagai salah satunya. Sejak saya pertama mengenalnya melalui forum berinisial FN itu di pertengahan 2009, foto-foto Rian semakin hari semakin memuaskan mata saya. Jika diawal-awal foto-fotonya hanya sebatas apa yang Rian sendiri menyebutnya sebagai “empty snapshot”, kini saya selalu ditawarkan foto-foto snapshot kaya akan interaksi. Cerdas!
 

Minggu, 25 September 2011

Tamasya Visual Bersama Klastic dan Lomonesia di “JAKARTA...”



     Para penggemar serta pegiat fotografi lo fi yang tergabung dalam Lomonesia dan Klastic berduet mengadakan sebuah pameran yang bertajuk “JAKARTA...” pada 24-25 September. Art Center, Museum Bank Mandiri dipilih sebagai tempat hajatan ini berlangsung. Pilihan tempat yang tepat, keunikan serta kelawasan gedung selaras dengan karakter foto yang dipamerkan. Ruang pameran yang terletak rada di pelosok gedung pun membuat pengunjung bertamasya melewati relung-relung jiwa si gedung tua itu. Tsaaah.

Rabu, 14 September 2011

Menilik Memori Perjuangan Untuk Merayakan Kemerdekaan

DSC_3925_800x532
Ada berbagai macam cara untuk merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia, salah satunya ialah dengan menampilkan ulang memori perjuangan kemerdekaan melalui foto-foto, seperti yang dilakukan oleh Galeri Foto Jurnalisik Antara (GFJA). Sejumlah 66 foto hasil jepretan Mendur bersaudaran dan rekan-rekan di Indonesian Press Photo Service  (IPPHOS) ditampilkan sejak 20 Agustus hingga 19 September 2011.



Kamis, 08 September 2011

Keindahan dalam Penderitaan: “Beauty is Pain(t)”

Pernahkah kalian berpikir mengapa wanita yang berbadan tinggi, ramping bermuka runcing, berrambut lurus, dan berbibir merah tipis itu disebut sebagai cantik? Ah, kalian pasti sudah sama-sama tahu bahwa wacana tubuh cantik adalah sesuatu yang dibentuk. Di era sekarang begitulah kira-kira syarat untuk ‘menjadi’ cantik. 

oke, pertanyaan berikutnya. Siapa yang nggak mau dibilang cantik? siapa yang tidak ingin dipuji? saya yakin kita semua pasti akan senang bukan kepalang kalau ada yang berkata atau  setidaknya menganggap kita cantik. Itu lah sebabnya cantik menjadi pencapaian bagi setiap manusia. dan sialnya, hal ini ternyata nggak lepas dari kendali industri. Industri (baca: kapitalisme) menawarkan konsep-konsep itu, bahwa kita, terutama kaum wanita harus menjadi cantik. Cantik adalah cara ampuh untuk menjadi pusat perhatian. 

Rabu, 07 September 2011

66 tahun RI: Dari Pegangsaan sampai Rijswijk



Dari Pegangsaan sampai Rijswijk

Menyambut 66th proklamasi kemerdekaan Indonesia,Galeri Foto Jurnalistik Antara menampilkan goresan visual Mendur Bersaudaran dan rekan sejawat mereka yang tergabung dalam Indonesian Press Photo Service alias IPPHOS Coy Ltd. Berbeda dengan foto-foto IPPHOS yang ditampilkan GFJA pada 2 tahun yang lalu, kali ini sebagian besar dari koleksi yang ditampilkan adalah karya yang jarang atau bahkan lolos dari publikasi baik dalam siaran media dan juga dalam buku pendidikan sejarah kita. Rangkaian coretan visual semenjak proklamasi kemerdekaan di Pegangsaan Timur (17 Agustus 1945) sampai pertama kali perayaan kemerdekaan di Istana Merdeka/Rijswijk (17 Agustus 1950). Peringatan kemerdekaan kita yang pertama setelah 5 tahun tersingkir dalam pemerintahan di pengasingan, di Yogayakarta yang penuh dengan pergolakan. Pergulatan menuju ke penyerahan kedaulatan RI.

66 tahun Republik Indonesia, 66 kartupos peristiwa bersejarah, 66 karya yang di pamerkan di gedung bersejarah Antara Pasar Baru. Tempat kabar proklamasi Kemerdekaan negeri kita di siarkan untuk pertama kalinya ke seluruh penjuru dunia pada 17 Agustus 1945, menjadi semacam muara pertemuan fotografi jurnalistik dan penyiaran kabar gembira lahirnya suatu janin bernama Indonesia,di persimpangan sejarah yang nilainya semakin dilupakan masyarakatnya.

66 karya foto Mendur Bersaudara dan IPPHOS mengantar kita mengarungi samudra sejarah besar bangsa ini untuk disaksamai dan menjadi inspirasi sekarang agar garuda tak perlu lagi terpekur menatap rantai-rantai putus yang tadinya kokoh menggantung lempeng besi butir2 visual pancasila. Dari Rijswijk alias Istana Merdeka sekarang semua beban itu harus dipertanggung jawabkan dalam bentuk penegakan hukum yang absolut. Kebijakan yang memihak publik dalam arti seluasnya, untuk semua golongan. Supaya hak kemajemukan kita berbangsa terlindungi sepenuhnya. Sama persis ketika Republik ini disepakati dibentuk dari beragam berbedaan, pada suatu Jumat pagi tanggal 17 bulan delapan tahun empatlima.
Bersatu kita teguh, bercerai Emang Gue Pikirin?

oscar motuloh
kurator

Rangkaian Acara:
Pembukaan: 19 Agustus 2011 pk 20:00
dibuka oleh: Setiawan Soemanang, Bambang Sulistomo, Soedarmadji Damais dan Ahmad Mukhlis Yusuf

LIVE: BLUES UNTUK KEMERDEKAAN
menampilkan compromised EGO

Pameran Foto:
20 Agustus -19 September 2011
Jam buka pk.10:00 - 19:30
(kecuali hari Senin & hari libur)

Temu Wicara: Sabtu, 10 September 2011 Pk. 16:00
Fotografi Sejarah & Refleksinya atas Kreativitas
Oleh: Yudhi Soerjoatmodjo

Acara ini didukung oleh:
GALERI FOTO JURNALISTIK ANTARA (http://www.gfja.org/)
DIVIS PEMBERITAAN FOTO ANTARA (http://www.antarafoto.com/)
PAPERINA DWIJAYA (http://www.paperina.com/)
GLOBE DIGITAL IMAGING
YAYASAN DELASIGA (http://www.nias-bangkit.com/tag/yayasan-delasiga/)
GAMBARA (http://www.nias-bangkit.com/)
MAJALAH WARISAN (http://www.warisanindonesia.com/)
VSEE
NEO JOURNALISM CLUB
BLUES 4 FREEDOM

GRATIS / Tidak dipungut Biaya